Minggu, 18 September 2011

Perawatan Kuda Atlit (bagian 2)


Stable Kandang
Pembangunan kandang untuk daerah tropis seperti di negara kita diusahakan mempunyai ventilasi yang cukup untuk pertukaran udara. Kandang sebaiknya dilengkapi dengan air bersih. Kuda yang di kandangkan membutuhkan ruang, udara, dan cahaya. Stable seharusnya cukup besar agar kuda dapat bergerak dengan bebas, untuk berbaring, rolling, dan bangun lagi tanpa terbentur dinding kandang. Ukuran ideal untuk stable adalah untuk kuda 3,5 x 3,5 m, dan untuk poni 3,5 x 3 m (Medivet2004), sedangkan menurut Robert (1985), idealnya ukuran kandang hendaklah kira-kira sekitar 4.2 m x 3.6 m untuk kuda, dan 3.6 m x 3.6 m untuk poni. Sirkulasi udara pada stable juga harus diperhatikan. Keadaan stable yang lembab akan membuat kuda kedinginan dan resiko terjadinya gangguan pernafasan akan lebih besar, pneumonia. Letak tempat pakan atau biasa disebut manger tidak lebih dari 60 cm dari lantai atau disesuaikan dengan tinggi kuda (Medivet2000). Kuda poni tidak akan mampu mencapai manger yang didisain untuk kuda pacu. Untuk hay‑net (rak tempat meletakkan hay) yang paling baik adalah 120 cm dari lantai (Medivet1985), namun pada umumnya kandang jarang tersedia, akan tetapi sekalipun ada jangan menempatkan hay‑net lebih tinggi dari kuda karena dikhawatirkan ketika kuda menarik hay pada saat makan, hay‑net akan jatuh dan mengenai kepala atau matanya.
Alas kandang yang paling baik untuk stable adalah jerami sedangkan batang juwawut/barley sebaiknya jangan digunakan sebagai alas kandang karena dapat mengiritasi kulit, juga dapat digunakan serbuk gergaji yang lebih membuat kuda hangat pada saat malam hari jika disesuaikan dengan ukuran luas kandang.
Stable yang baik akan menyediakan tempat khusus untuk gudang makanan, selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan makanan juga dapat dipergunakan untuk menyimpan obat‑obatan, sebaiknya gudang ini dibangun di dekat kandang pemeliharaan dan klinik dibangun berdekatan dengan kandang induk untuk mengantisipasi dan efektifitas bila ada kasus mendadak.
Grooming
Pada kuda liar atau kuda yang bebas di padang rumput, secara alamiah mereka dapat merawat dirinya. Mereka melakukan rolling apabila mereka merasa gatal atau berkeringat dan untuk mengatur bulunya mereka dapat menggosokkan badannya pada pohon. Ketika merasa gatal pada daerah bawah perut atau selangkangan, mereka menggunakan semak‑semak untuk menggaruk. Akan tetapi pada kuda-kuda yang di kandangkan perawatannya tergantung pada kita, jika seekor kuda diberi perawatan dengan standar perawatan dan perhatian yang sangat besar maka dia akan memberikan kita imbalan dengan penampilan terbaiknya. Kuda yang dikandangkan seharusnya digroom secara teratur setiap hari, tidak hanya membuatnya kelihatan gagah, tetapi untuk menjaga kulitnya dan bulunya dalam keadaan sehat serta untuk mencegah penyakit kulit. Para pemilik kuda yang betul-betul memperhatikan perawatan kudanya, pada cuaca dingin untuk menjaga temperatur tubuh kuda tetap, disediakan selimut atau penutup tubuh tebal. Kebanyakkan orang berpendapat bahwa pertandingan adalah dimenangkan dirumah, dengan kata lain pakan, kebugaran dan manajemen stable sama pentingnya dengan pelatihan dan pertandingan kaitannya dalam menghasilkan seekor kuda yang berpotensi untuk menang (Hodges dan Pilliner, 1991).
Tindakan grooming baru dapat dilakukan setelah sebelumnya kita terlebih dahulu melakukan pendekatan pada kuda tersebut, misalkan saja dengan mengusap kepalanya, punggungya dan yang lebih penting adalah memahami karakteristik dari kuda tersebut. Item yang diperlukan untuk grooming kit menurut Robert (1985), terdiri dari dandy brush, body brush, water brush, hoof pick, hoof oil and brush, stable rubbing cloth, two small sponges, a rubber atau plastic curry comb, curry comb, mane comb, metal curry combdan sweat scraper.
Dandy brush digunakan hanya untuk menghilangkan lumpur dan keringat yang mengering. Jangan digunakan pada daerah‑daerah sensitif pada kuda, misalnya bawah perut, diantara paha dan wajah. Juga pada surai atau ekor karena akan merusak rambutmya. Body brush atau sikat badan berfungsi untuk membersihkan debu, kotoran, dan untuk membersihkan bulu tengkuk dan bulu ekor serta untuk meratakan minyak pada tubuh. Penggunaan body brush harus menggunakan tekanan yang kuat. Water brush digunakan untuk membasahi, untuk menidurkan surai setelah disikat, atau sebelum menjalin dan untuk menidurkan bulu tengkuk atau ekor sebelum dipasangkan bandage dan dijalin. Kegunaan hoof pick amatlah jelas dan amat penting yaitu untuk membersihkan kuku. Hoof oil atau minyak kuku berguna untuk mencegah kerapuhan terutama pada kuku‑kuku yang berwarna mudaStable rubbing cloth adalah pelumas/ penyemir yang dapat digunakan untuk mengeringkan telinga kuda jika basah dan kedinginanTwo small sponges digunakan untuk menyeka mata, kuping dan hidungRubber atau plastic curry comb digunakan untuk menyisir bulu kuda yang dalam keadaan mudah rontok. Bila digunakan dengan gerakan yang memutar, akan mengangkat bulu yang terlepas. Penggosok keringat/sweat scrap digunakan untuk menghilangkan keringat atau air dari bulu karena mempunyai daya penyapu/pembersih. Mane comb digunakan untuk merapikan bulu tengkuk, mengembangkan dan meluruskan rambut ekor.
Menggrooming, terutama badan dengan body brush, seharusnya dilakukan tanpa sarung tangan, agar ujung‑ujung yang sensitif dapat digunakan untuk merasakan adanya bengkak atau luka‑Iuka kecil atau hal‑hal yang tidak biasa pada kulit. Jika kita merasakan sedikit nodul atau lumpur atau kotoran hal ini dapat dirasakan dengan jari‑jari kita dan gunakan sikat untuk membersihkannya. Jika kotoran atau lumpur tertinggal di kaki harus segera dibersihkan karena akan menyumbat pori‑pori dan menyebabkan mud fever. Periksa juga adanya lumpur di dalam pastern, di antara koronet dan fetlock joint.
Ketika kita menggroming bagian kepala, kepala kuda harus dibungkukkan sampai setinggi leher orang yang menggroming. Mata, hidung harus disapu dengan sponge yang hangat‑hangat kuku. Ambing dari kuda betina harus terjaga kebersihannya, dan pada kuda jantan praeputium harus dicuci secara periodik. Tidak setiap orang menyadari hal ini perlu dilakukan, tetapi apabila bagian ini tersumbat dengan minyak dan kotoran akan menimbukan masalah.
Kaki harus dibersihkan paling tidak dua kali sehari, yaitu pagi hari pada saat grooming pertama dan diulang setelah kuda beraktivitas. Minyak kuku harus dilumaskan, hal ini harus dilakukan di atas koronet, dimana pertumbuhan dimulai.
Exercise (Latihan)
Kuda membutuhkan latihan untuk mejaga kesehatannya sama halnya dengan atlit lainnya, pada saat seekor kuda dalam kondisi kerja membutuhkan latihan tambahan untuk membangun dan memelihara kondisinya, (Draper, 1999). Untuk kuda atlit yang secara rutin dilatih memerlukan frekuensi istirahat yang cukup, terlebih lagi pada saat dimana kuda baru saja mengikuti suatu pertandingan, istirahat yang diberikan pada kuda dapat dengan melakukan pengumbaran di paddock. Tindakan tersebut di atas memberikan kesempatan bagi kuda untuk merelaksasikan otot-otot yang tegang setelah hari-hari kerja yang dijalani sebelumnya, dan akan sangat berpengaruh terhadap psikologis kuda tersebut berkaitan dengan kelanjutan program latihan yang akan diberikan dimana kuda cenderung bosan sehingga berdampak terhadap kondisi sulitnya kuda untuk menerima pendidikan selanjutnya. Perlakuan latihan yang tidak tepat akan menyebabkan luka pada otot maupun tulang, bagi kuda atlit.
Agar kondisi fisik kuda tetap prima, keadaan cuaca juga perlu dipertimbangkan pada saat akan menjalani latihan karena kondisi cuaca yang terik akan memudahkan hewan mengalami dehidrasi sementara pada saat cuaca hujan akan terjadi ketidak seimbangan antara temperatur tubuh dengan lingkungan, yang akan berpengaruh pada penurunan kesehatan tubuh, selain itu kenyamanan lapangan dimana tempat kuda akan menjalani latihan hendaklah terjamin dari berbagai kemungkinan adanya faktor penyebab kecelakaan.
Beberapa hal penting dalam rangka mencapai puncak dari prestasi yang diharapkan, perawat maupun penunggang mutlak untuk ditekankan terhadap penguasaan kontrol temperamen kuda, dengan tujuan agar kuda menurut pada setiap perintah yang diberikan, tetap tenang pada saat disaksikan orang banyak dan harus mempunyai insting untuk suka berlari-lari, melompat dan bermain. Hal penting lain yang harus dikuasai dengan baik oleh seekor kuda atlit adalah ‘Free’ maksudnya ialah seluruh tubuh (tulang, otot, kaki, tulang belakang) kuda dapat bergerak dengan luwes, alami serta dinamis. Seorang pelatih harus memperhatikan kemajuan-kemajuan (Forward) yang diperoleh kuda selama latihan, dengan begitu dapat menentukan kapan latihan ketingkat selanjutnya diberikan.
Dalam latihan seekor kuda hendaklah mendapatkan gerakan membelok ke kanan dan ke kiri dengan proporsi yang seimbang, jika tidak seimbang akan terjadi kasus ‘One-sideness’ yaitu kuda hanya dapat membelok pada salah satu sisi saja, dan irama yang tidak teratur akan mengakibatkan ketidak seimbangan tubuh yang merupakan penyebab lain dari penyakit ini adalah dimana akan ada otot yang lebih kuat atau lebih fleksibel dengan pasangannya (Medivet, 2001).
Vaksinasi
Vaksinasi ialah usaha dengan menggunakan cara imunoprofilaktis dengan tujuan memperoleh kekebalan aktif yang disebabkan timbulnya antibodi dalam tubuh akibat rangsangan dari vaksin (Syamsudin, 1988). Immunitas adalah faktor yang berhubungan antara mikroba dan hospes/individu. Seekor individu yang memiliki immunitas dengan kapasitas sel khusus dalam tubuh yang memproduksi antibodi dapat bertindak sebagai substansi proteksi tehadap serangan mikroba. Immunitas dapat berubah-ubah tergantung mikroba sebagai agen infeksi dan program vaksinasi (Medivet, 2001). Program pencegahan dan perawatan kesehatan dapat dicapai dengan pelaksanaan vaksinasi yang baik, obat-obatan yang diberikan dalam rangka pencegahan merupakan tindakan ekonomis yang tepat dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi kesehatan kuda sekalipun terlihat mendatangkan peningkatan biaya perawatan. Vaksinasi yang dilakukan secara luas dimaksudkan untuk pencegahan terhadap infeksi penyakit, disamping pengobatan penyakit mahal berkaitan dengan obat-obatan yang digunakan, juga dapat menurunkan kondisi kesehatan tubuh dan kemungkinan menyebabkan kematian, untuk itu program imunisasi yang baik merupakan jaminan tindakan nyata dalam segi ekonomis.
Deworming (Pemberian obat cacing)
Pemberian obat cacing penting bagi kuda, terutama untuk yang berada di lapangan rumput. Jika ini tidak dilakukan secara teratur dalam jangka waktu 3 bulan sekali sebagai usaha pencegahan, maka perut kuda akan tampak gemuk/membesar sebagai manifestasi dari adanya infeksi endoparasit (Medivet, 2001). Semakin lama kuda akan bertambah kurus, tulang rusuknya akan sedikit terlihat dan kasar, bulunya kusam. Jika kuda mencapai kondisi seperti itu, maka ini harus diberi obat cacing. Jauhkan kuda dari lapangan rumput yang biasanya dipakai untuk merumput jenis ternak yang lain, untuk menghindari terinfeksinya cacing.

Perawatan Kuda Atlit (bagian 1)


Tindakan perawatan terhadap kuda secara garis besar diupayakan dalam rangka pencegahan terhadap penyakit. Pencegahan penyakit dapat dengan cara melakukan program vaksinasi, menjaga kebersihan kuda, kandang dan lingkungan kandang serta peralatan kandang, padang penggembalaan dan pakan kuda. Temperatur kandang dijaga dengan cara menyediakan vetilasi kandang yang cukup, pemberian kipas angin dan AC bila diperlukan sewaktu-waktu. Temperatur kandang yang baik adalah temperatur yang memiliki variasi yang kecil terhadap temperatur di luar kandang (Medivet, 2001). Berikut ini merupakan tindakan perawatan yang dapat diupayakan.
Pakan
Sebagaimana layaknya manusia, agar menjadi unggulan, kuda perlu gizi dan perawatan yang baik. Selain rumput lokal, pakan utamanya ialah sejenis rumput Australia, juga horse pellets yang berupa jagung, gandum-ganduman (oats, barley), dan bunga matahari yang harus diimpor (Christantiowati2003). Bagaimanapun juga sempurnanya kondisi kuda, perlu pemberian pakan yang benar, pelatihan, dan program kebugaran untuk mengenali kemampuan atletiknya secara menyeluruh (Pilliner1993). Pakan merupakan salah satu faktor kritis yang menentukan penampilan dari seekor kuda (Pilliner,1985). Bagian dari sistem pencernaan adalah untuk merubah nutrisi menjadi produk akhir yang dapat diserap melalui dinding sel usus, kemudian ikut aliran darah dan digunakan oleh tubuh. Dalam pemeliharaan kuda atlit hendaklah sang pemilik mampu mencocokan keperluan nutrisi dan kandungan makanan yang tersedia dari pakan yang diberikan terhadap orientasi jenis olahraga berkuda yang akan dilaksanakan selama dalam pelatihan. Pemberian pakan yang benar dan seimbang pada kuda diperlukan untuk kesehatan secara keseluruhan, mempertahankan temperatur tubuh, mengganti jaringan-jaringan tubuh yang rusak, membangun dan mempertahankan kondisi tubuh dan untuk persediaan energi dalam rangka pergerakannya. Jika seekor kuda bekerja dengan prestasi yang sangat memuaskan maka harus diberikan asupan pakan yang menghasilkan protein dengan tinggi energi, dan jumlah pakan yang diterima hendaklah menunjang aktivitasnya berkaitan dengan jumlah energi yang dikeluarkan (Robert, 1985).
§ Rumput dan Konsentrat
Pada kuda pekerja, jenis makanan yang sesuai adalah hay atau rumput. Hay atau rumput adalah makanan yang paling banyak dikonsumsi dimana hijauan pada kuda diperlukan sebanyak 68% (Susetyo, 1969), dan selalu dimakan dengan lambat, jadi tidak terlalu menyesakkan lambung. Kecuali pada kuda yang baru pertama kali dilepaskan di padang rumput yang lebat, mereka cenderung makan secara cepat dan dalam jumlah yang banyak. Sedangkan untuk konsentrat, oat adalah pakan konsentrat yang memberikan keseimbangan terbaik bagi kuda, akan tetapi bila diberi terlalu banyak akan mengganggu keseimbangan alami dari sistem pencernaan dan dapat menyebabkan digesti akut atau kolik. Dalam sekali makan kuda dapat mencerna 1.3 – 1.8 kg konsentrat seperti tepung gandum/oat yang dicampur sedikit sekam /bran atau dedak/chaff. Namun jika hanya digunakan salah satu jenis saja dapat diberikan lebih banyak yaitu sampai 2.7 kg karena bahan tersebut memenuhi kandungan serat yang tinggi dan umunya dimakan lebih lambat. Beberapa zat-zat yang harus terkandungan dalam makanan yang diberikan pada kuda dalam jumlah yang seimbang antara lain yaitu, Karbohidrat, Lemak, Protein, Air, Vitamin, dan Mineral. Adapun penjelasan secara singkat dari masing-masing kandungan zat tersebut dapat dilihat pada berkas lampiran 1.
Pemberian pakan dalam teorinya merupakan alokasi pemilihan bahan makanan yang cukup menyediakan keperluan nutrisi harian dari seekor kuda khusus (Pilliner, 1993). Pemberian pakan sendiri dapat dikalkulasikan dengan mudah dengan mengikuti beberapa aturan sederhana dan menghubungkan tabel yang diberikanterhadap kandungan nilai gizi dari bahan makanan yang tersedia. Ada dua alasan utama berkaitan dengan pemberian pakan pada kuda, pertama-tama untuk menjaga mereka agar tetap hidup, dan yang kedua agar mereka dapat melakukan tugas-tugas yang kita inginkan dari mereka. Dalam istilah ilmu pengetahuan ini dikenal dengan ‘maintenance’ dan ‘production’. Berikut merupakan klasifikasi dalam pemberian pakan pada kuda berdasarkan jenis aktivitas yang sedang dijalankan.
§ Maintenance
Pemberian pakan pada kuda untuk maintenance adalah memberikan kuda tersebut cukup makanan untuk tetap mempertahankan keadaan hewan saat itu (Pilliner, 1993). Ini berarti menyediakan energi untuk otot dan usus, jantung dan paru-paru agar proses-proses penting metabolisme dapat terus berjalan, energi untuk merumput, untuk mempertahankan temperatur suhu tubuh dan mengganti sel-sel tubuh agar tubuh dapat bekerja dengan baik.
Keperluan maintenance biasanya dapat dipenuhi hanya dengan pemberian forage saja. Faktor utama yang menentukan berapa besar energi yang diperlukan untuk maintenance adalah tergantung dengan berat tubuh hewan tersebut, kuda-kuda yang lebih besar akan perlu lebih banyak makanan untuk tetap hidup.
§ Produksi
Produksi dapat dibagi dalam enam bentuk yang berbeda: pertumbuhan, kebuntingan, menyusui, penggemukan, kerja dan pemulihan (penyembuhan dari sakit dan luka). Pada pembahasan ini akan lebih ditekankan pada kuda kerja, yang mana akan diamati kedalam berbagai macam kategori tergantung pada umur dan kemampuan kuda dan penunggang.
Energi ekstra dan protein yang diperlukan oleh kuda untuk kerja biasanya tersedia pada konsentrat. Kuda-kuda kompetisi tidak akan mampu untuk menyuling cukup energi atau protein dari ransum forage untuk melakukan kerja dengan tanpa penurunan kondisi.
Energi yang berisi bahan makanan diukur dalam megajoule.jadi kandungan energi dari oat dituliskan 14 MJ of DE/kg, ini berarti bahwa dalam setiap kilogramnya mengandung 14 megajoule dari energi tercerna. Megajoule adalah penghitungan kalori yang kita lakukan untuk menghitung kalori yang dibutuhkan oleh kuda. Sedangkan protein diukur dengan presentase, contoh: oat mengandung 11% protein kasar, masing-masing oat tiap kilogramnya mengandung 110 gram serat kasar.
§ Aturan Pemberian Pakan
Ada tiga aturan dasar yang teramat penting dalam pemberian pakan kuda menurut Medivet (2000), yaitu memberi makan dalam jumlah yang sedikit tetapi sering. Sekalipun pakan yang diberikan adalah pakan dengan kualitas gizi serta mempunyai nilai palatabilitas yang baik namun jika terus menerus diberikan dalam jumlah yang banyak maka pada akhirnya kuda pun akan berhenti atau cenderung untuk tidak menghabiskan makanannya karena bosan. Pemberian pakan pada kuda sebaikya sedikit dibawah kebutuhan normal selera makannya agar kuda selalu bersemangat untuk makan pada pemberian konsentrat berikutnya dan selalu menghabiskan hay yang diberikan sebelumnya pada saat akan dilakukan penambahan lagi. Aturan pemberian pakan yang kedua yaitu, jangan segera memperkerjakan kuda secara keras sehabis makan. Alasan fiskal untuk aturan ini adalah ketika kuda telah selesai diberi makan konsentrat, lambung dan perutnya akan tampak lebih besar dari pada sebelumnya. Artinya makanan tersebut telah mengisi ruangan perut, mengembungkan perut, tidak hanya pada sisi sebelah luar dan sisi samping saja, tetapi juga bagian depan di atas diafragma dan menekan paru-paru ini menyebabkan kuda kesulitan untuk bernafas sebagaimana mestinya. Sedangkan bekerja keras disaat perutnya masih menggelembung akan menyebabkan stress dan pernafasan yang dipaksakan, dan aturan yang terakhir adalah, sediakan air bersih yang banyak. Sebelum makan, biasanya kuda akan minum, terutama pada kuda-kuda yang baru selesai bekerja. Di sela-sela makan kuda biasanya akan minum. Pemberian minum beberapa saat sebelum bekerja keras seperti pacuan dan cross country akan memperlambat gerakan kuda. Di saat panas, kuda akan minum lebih banyak dari biasanya. Dan pada cuaca yang dingin, sebaiknya air dihangatkan terlebih dahulu. Kuda adalah hewan yang pemilih dalam hal minum. Kuda tidak menyukai air yang telah terkontaminasi dengan kotoran, atau air dari ember yang berlumpur. Yang paling baik adalah menyediakan air yang segar dan asli atau air tipe privalen yang terklorinasi yang biasanya terdapat di kota-kota besar. Selain itu air hujan yang ditampung dapat juga digunakan.

Kelas Kuda


Menurut Oetari (1990), kuda digolongkan menjadi kuda tunggang atau karena ukuran badannya lazim disebut kuda ringan(beratnya hanya antara 400 sampai 600 kg, dengan tinggi pundak antara 145 sampai 170 cm); kuda tarik (berat biasanya di atas 600 kg dengan tinggi antara 145 sampai 175 cm) dan poni (berat antara 200 sampai 400 kg dan tinggi sekitar 145 cm). Kuda ringan dapat digolongkan menjadi 7 kategori.
Kategori yang paling banyak dari kuda ringan adalah yang disebut three gaited horse. Disebut demikian karena latihannya diarahkan pada pengembangan ketrampilan berjalan, yang terkenal dengan 3 cara berjalan yaitu walk, trot dan canter. Kuda yang termasuk dalam three gaited horse adalah American Saddle Horse, Morgan dan Arabian. Namun demikian kuda-­kuda lain yang memiliki kemampuan tinggi juga dapat dimasukkan pada kategori ini.
Kuda yang termasuk golongan five-gaited horse, di samping ketrampilan walk, trot dan canter juga diperhatikan slow gait danrack. Dua hal yang terakhir itu sangat sulit untuk diajarkan, hingga kuda yang termasuk kategori five gaited horse biasanya harganya jauh lebih mahal. Kuda-kuda ini umumnya termasuk dalam registrasi American Saddle Horse.
Walkinghorse kebanyakan terdiri dari satu bangsa. Kuda yang termasuk dalam Tennessee Walking Horse yang dikembangkan oleh para pemilik perkebunan di Tennessee, menempati tempat yang cukup unik dalam kontes atau pameran kuda dan merupakan salah satu jenis kuda yang populer dalam hal kecantikan dan kemampuannya beratraksi.
Stock horse diturunkan dari kuda mustang dan tidak jelas cara pemuliaannya. Ini merupakan kelas paling besar dari kuda ringanYang jumlahnya di Amerika Serikat mencapai 400.000 ekor. Banyak stock yang tercatat sebagai Quarter Horse atau setidaknya yang disebut half atau quarter bred. Beberapa di antaranya juga mempunyai darah Morgan. Kuda Polo poni yang pernah suatu saat sangat populer, sekarang terbatas pada orang-orang tertentu saja karena harganya yang mahal. Biaya pengangkutan, latihan, pakan dan pengeluaran-pengeluaran yang lain cukup besar hingga popularitasnya terbatas pada orang-orang kaya saja.
Hunter dan Jumper biasanya merupakan bagian dari bangsaThoroughbred. Hampir di setiap negara bagian di Amerika Serikat mempunyai organisasi pemburu serigala dan bangsa Thoroughbredatau Half Thoroughbred sangat ideal untuk tugas perburuan tersebut.
Kuda Balap merupakan jenis kuda yang banyak peminatnya. Di Amerika Serikat balapan kuda Thoroughbred memperlombakan jarak sejauh 6 furlong (= 0,75 mil) sampai 2 mil baik di permukaan rata maupun menanjak, atau sampai sejauh 4 mil di kawasan hutan atau semak. Bangsa Standarbred dan Morgan diperlombakan dengan beban jarak 1 mil. Kuda Quarter Horse hanya dilombakan sejauh 0,25 mil.

Fisiologi Kuda Atlit


Dalam memelihara kuda, kesehatan merupakan faktor yang harus diperhatikan karena kesehatan kuda sangat mempengaruhi keindahan kegagahan dan tenaga. Agar memperoleh penampilan kuda yang baik maka kita tidak hanya harus mengerti bagaimana membentuk dan membangun perototan dan menunganginya dengan baik, kitapun dituntut untuk mengerti mengenai fungsi dan pengaruh dari berbagai jenis latihan yang diberikan terhadap tiap bagian organ dari kuda. (Hodges dan Pillipiner,1991).
Kuda yang ditujukan untuk penampilan khusus akan memerlukan latihan khusus untuk membangun perototan dan keluwesan pada saat pertunjukan, namun yang perlu ditekankan dalam memilih seekor kuda adalah pertimbangan bentuk normal tubuh yang baik, proporsi yang seimbang, perkembangan dan temperamen yang bagus. Tindakan dan pembawaannya halus, anggun dan penuh harmonis, serta kemampuan penampilan yang memuaskan. Kelainan pada bentuk normal tubuh dapat mengurangi kesempatan seekor kuda dalam melakukan banyak aktivitas selama masa pelatihannya, dan perkembangan yang tidak tepat akan menciptakan kondisi stres fisik yang akan berpengaruh pada temperamennya. Temperamen dan sikap karakter yang baik dalam beraktivitas akan membuat kuda tersebut menyenangkan untuk dimiliki dan diatur (Hodges dan Pillipiner, 1991). Temperamen dan sikap dari kuda haruslah dipertimbangkan dalam kaitannya dengan olahraga yang akan dipilih dan bagaimana kuda tersebut akan bertahan terhadap tuntutan dari tingkat pelatihan penting.
Sistem Pencernaan Kuda
Saluran gastrointestinal adalah saluran yang bersifat musculo-membranosus yang memanjang mulai dari mulut hingga anus. Pada kuda panjang saluran membran mukosa ini diperkirakan 100 kaki dan berfungsi dalam ingesti, menggiling, mencampur, pencernaan, dan penyerapan makanan dan pengeluaran limbah padat. Organ-organ pencernaan kuda dimulai dari mulut, pharynx, esophagus, lambungusus halususus buntuusus besardan anus. Kuda pada dasarnya adalah hewan yang suka merumput, usus kuda telah dirancang untuk menerima sejumlah kecil serat makanan dengan intakeyang teratur dan memerlukan suplai makanan yang konstan tanpa pernah melebihi kemampuan sistem yang ada. Dalam menjaga agar sistem kerja pencernaan kuda efisien maka pemberian pakan sedapat mungkin harus menyesuaikan fisiologis alaminya, oleh karena itu aturan pemberian pakan yang baik adalah memberi sedikit pakan tetapi sering. Kunci alasan dari aturan ini ialah bahwa ukuran lambung kuda relatif kecil kira-kira seperti ukuran bola rugby (Pilliner, 1985). Volume lambung pada kuda dengan berat 500kg rata-rata 7.5-15 liter atau 8-10% dari total kapasitas saluran pencernaan, panjang lambung 0,25 meter dimana fungsi dari lambung sendiri adalah mencampur massa pakan, mencerna beberapa protein, menampung massa pakan, dengan lama waktu penyimpanan untuk air 30-60 menit, sementara untuk pakan kering 30 menit-12 jam (Kohnke, Kelleher,dan Jones, 1999).
Sistem Pernafasan Kuda
Oksigen merupakan sesuatu yang keberadaannya sangat vital dalam kehidupan. Fungsi utama dari sistem respirasi adalah mensuplai oksigen ke dalam jaringan dan mengeluarkan karbondioksida. Sistem respirasi juga berperan penting dalam mengatur suhu tubuh, dan pengeluaran air (cairan tubuh) serta terdiri dari rangkaian aliran udara yang menghubungkan antara paru-paru dan udara luar dimana organ yang berperan dalam hal ini meliputi nasal cavitypharynx, larynx, trachea, bronchi, dan lungs (paru-paru). Jalan masuk ke rongga hidung dilindungi oleh nostril, dimana pada kuda adalah vaskuler, lembut, lunak, dan bisa luas berdilatasi. Muzle terdiri dari rambut-rambut tentakel dan merupakan organ yang sensitif untuk meraba dan muzle juga berfungsi memastikan makanan tepat untuk dimasukan ke ruang mulut dalam arti memegangnya. Rongga hidung dilapisi oleh membran mukosa yang mampu menghangatkan udara inspirasi. Pharynxmerupakan ruang bersama antara saluran hidung dan mulut, larynx menjaga masuknya objek lain ke dalam trakhea pada saat inspirasi dan mengatur aliran udara. Lekuk kartilago disebut juga epiglottis menutup aliran udara pernafasan ketika menelan makanan. Larynx juga sebagai organ suara utama dan memuat tali suara. Trakhea adalah pipa panjang yang bersifat noncollapssible artinya saluran udara tersebut tidak akan melipat, menghubungkan kerongkongan ke paru-paru pada bagian ujung bercabang membentuk bronchi, yang terus kemudian membentuk bronchioli. Paru-paru berpasangan dan berisi banyak kantung udara dimana terjadi pertukaran gas antara udara dan kapiler-kapiler pulmonary.
Pergerakan keluar masuknya udara kedalam paru-paru (respirasi) dicapai oleh adanya kontraksi dan relaksasi dari diafragma dan otot-otot intercostae. Tingkat respirasi tergantung pada keperluan jaringan akan oksigen. Sistem syaraf yang terlibat memiliki sistem yang rumit untuk mengontrol tingkat respirasi. Normalnya dalam kondisi istirahat seekor kuda akan bernafas 8-16 kali permenit dan akan meningkat tajam selama beraktifitas (Hamer, D. 1993).
Sistem Peredaran Darah Kuda
Untuk menghasilkan energi secara aerob, maka oksigen harus dikirim ke otot dengan cepat dan efisien melalui darah yang dipompakan oleh jantung melalui arteri, lalu kapiler darah yang kecil yang mensuplai serat-serat otot. Kondisi homeostasis internal dipertahankan di dalam tubuh kuda oleh adanya sirkulasi darah. Darah disebut sebagai ‘pusat kehidupan’ karena keberadaannya sebagai cairan penting yang menyebar di dalam jaringan tubuh untuk mendukung kehidupan. Beberapa fungsi dari darah adalah:
  1. transportasi nutrisi dari saluran ke jaringan.
  2. mengeluarkan produk sisa metabolisme.
  3. transport oksigen ke dalam jaringan.
  4. transport sekresi endokrin.
  5. penyetaraan kandungan air.
  6. pengatur suhu tubuh.
  7. pengatur kadar asam tubuh.
  8. pertahanan untuk melawan mikroorganisme.
  9. kekebalan penyakit.
10. reaksi alergi.
Sistem sirkulasi terdiri dari jantung dan sistem pembuluh darah diseluruh tubuh. Arteri-arteri mempunyai dinding yang tebal, merupakan pembuluh-pembluh otot yang membawa darah dari jantung. Pembuluh-pembuluh ini bercabang dan ukurannya semakin kecil dan berkembang menjadi arteriol (arteri-arteri kecil) dan akhirnya menjadi apa yang disebut capillary bed (tempat pertukaran cairan dan nutrisi). Kapiler-kapiler bersatu membentuk vena kecil, dan vena-vena ini bergabung membentuk vena dengan ukuran besar yang kembali membawa darah menuju jantung. Arteri pulmonalis membawa darah miskin oksigen dari jantung ke paru-paru, dan darah kaya akan oksigen dikirim kembalimenuju jantung lewat vena pulmonalis. Jantung yang besar dan organ yang berotot pada kuda, baik sekali sebagai pembantu dalam sisitem sirkulasi. Akan tetapi terdapat kontrol syaraf yang rumit dari jantung yang dapat berubah dengan tajam terhadap kecepatan ritme jantung pada variasi kondisi fisiologis. Menurut Evans 1989, kecepatan denyut jantung pada kuda dewasa antara 36-40 kali permenit, dimana kecepatan ini agak sedikit lebih rendah pada kuda jenis draft (kuda berdarah dingin) dan agak sedikit lebih tinggi pada kuda-kuda thoroughbred (kuda berdarah panas) . Kecepatan denyut jantung dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis seperti rangsangan, latihan gerak otot, temperatur lingkungan, pencernaan, tidur, dan kondisi variasi penyakit.
Sistem Urinaria Kuda
Sistem urinaria tediri dari sepasang ginjal, ureter, kantung kemih, dan uretra. Ginjal mengadakan sistem filtrasi darah yang bertanggungjawab terhadap ekskresi berbagai limbah produk dari tubuh. Ginjal mengontrol kesimbangan air, pH, dan tingkat elektrolit serta membersihkan darah dan bertanggungjawab terhadap kestabilan komposisi darah serta semua zat yang masuk ke dalam ginjal. Pada kuda ginjal terletak pada bagian lumbal, adanya kekakuan dan sakit punggung sering dihubungkan dengan penyakit ginjal. Urine kuda normal seharusnya berwarna keruh dan kental (Hamer, D. 1993). Produksi urin kuda normal sekitar 2-11 liter dalam sehari.
Pertulangan Kuda
Kerangka kuda terdiri dari tengkorak, tulang punggung, rusuk, dan tulang dada, tungkai dan lengan. Sistem rangka termasuk tulang dan ikatan sendi, yang mengikat tulang bersama-sama membentuk persendian, adanya rangka memberikan bentuk tubuh, melindungi bagian-bagian tubuh yang lunak, dan melindungi organ-organ vital. Tulang bertindak sebagai pengungkit, menyimpan mineral, dan tempat pembentukan sel darah merah. Tulang kuda keseluruhan terbentuk dari 205 buah tulang (Evans, 1989).
Tulang diklasifikasikan menjadi berbagai macam antara lain panjang, pendek, rata, dan tidak teratur. Fungsi utama dari tulang panjang sebagai pengungkit dan membantu dalam pergerakan dan menopang berat tubuh. Tulang pendek berfungsi dalam meredam hentakan yang dapat ditemukan pada persendian yang rumit seperti pada carpus(lutut), tarsus (hock), dan fetlock (ankle). Tulang pipih menutup ruang yang berisi organ-organ vital: tengkorak (otak) dan tulang rusuk (jantung dan paru-paru). Tulang pipih juga membentuk bidang yang luas sebagai tempat melekatnya otot. Tulang tak beraturan seperti pada tulang belakang; dimana keberadaannya tulang-tulang tersebut sebagai pelindungsistem syaraf pusat.
Periosteum adalah membran yang lebih dulu meliputi tulang diseluruh tubuh. Periosteum melindungi tulang dan merupakan tempat dari penyembuhan dimana terdapat fraktur. Pertumbuhan abnormal pada periosteum dikenal dengan istilah exostosis. Pada kuda, akibat dari periosteum dapat mengakibatkan pertumbuhan tulang yang tidak diinginkan, seperti splintspavins, dan ringbone.
Training yang benar akan memberikan kekuatan pertulangan yang maksimum pada kuda. Kekuatan tulang seekor kuda akan maksimal bila diberikan perlakuan dengan sejumlah kecil aktivitas yang disertakan dengan variasi gerakan yang berbeda tingkat ketegangannya pada tulang, sebagai contoh ialah lompat gymnastic dan gerakan menyamping. Tulang memerlukan latihan untuk stimulasi pertumbuhannya karena dengan latihan akan menstimulasi peredaran darah dengan baik yang penting untuk membawa nutrisi bagi pertumbuhan, memperbaiki dan meningkatkan pertumbuhan dan membawa hasil sisa metabolisme.
Sistem Otot Kuda
Sel-sel otot secara khusus berfungsi untuk berkontraksi. Kontraksi ini memerlukan energi yang disediakan oleh ’gudang energi’ dari sel berstruktur kecil yang disebut mitochondria, dan bahan bakar gudang energi ini diperoleh dari pemecahan glukosa. Energi juga dapat diperoleh dari pemecahan asam lemak bebas, yang tersedia di dalam darah atau disimpan di dalam jaringan otot.
Kecepatan Pergantian Sel-Sel Darah Merah Kuda
Pengaruh penting lainnya dari adanya latihan pada darah adalah suatu keadaan dimana cepatnya pergantian sel-sel darah merah. Sel-sel mempunyai masa hidup yang terbatas biasanya empat sampai lima bulan. Kondisi tersebut akan berkurang pada saat kuda berkerja keras. Kuda yang berkerja memompakan darah keseluruh tubuh lebih cepat, maka proses pertukaran sel darah merah yang rusak akan cepat juga.

KUDA ATLIT

Kuda atlit adalah kuda-kuda yang dipersiapkan untuk tujuan jenis olahraga tertentu dengan pengembangan fisik yang lebih terstruktur disertai dengan perawakan yang indah pada kuda tersebut sebagai hasil dari latihan yang dijalankan secara kontinyu dan proporsional (Prameswari, 2005). Baik dalam segi perawatan maupun pemeliharaan, sudah barang tentu seekor kuda atlit mendapatkan perlakuan yang spesial diantara kuda-kuda peliharaan lainnya. Beberapa kriteria dalam pemilihan kuda atlit dalam upaya menunjang prestasinya antara lain, bentuk tubuh (konformasi), sifat kuda, temperamen, karater, ayunan langkah (passage) dan pergerakan (movement). Motivasi peminat olahraga ini adalah peningkatan prestasi, dalam kaitanya prestasi sendiri tidak terlepas dari adanya faktor-faktor seperti kecocokan kuda dengan penunggang, peran pelatih, perawatan, pendidikan pada kuda tersebut seperti misalnya disekolahkan (Soekotjo, 2005). Adanya korelasi antara ras terhadap prestasi juga menentukan tingkat prestasi yang dicapai kelak oleh kuda tersebut, karena pada ras-ras kuda tertentu mempunyai bakat yang cenderung lebih dominan untuk dilatih jenis olahraga berkuda tertentu, seperti halnya untuk disiplin endurance dapat digunakan kuda-kuda ras Arab karena memiliki ketahanan untuk menempuh jarak jauh, untuk pacuan digunakan kuda-kuda berdarah panas (Hot blood) yaitu kuda Thoroughbreed dengan pembawaannya yang sangat aktif membuat jenis kuda ini sebagai satu-satunya bangsa kuda yang terbaik di kalangan pacuan kuda, jenis kuda warmblood (berdarah hangat) bertemperamen tenang cocok untuk disiplin Dressage dan Jumping sertaThree day event, untuk kuda dressage diutamakan pada ayunan langkah serta panjang badan sedangkan untuk jumping maupun three day event kuda yang dipilih hendaklah yang pemberani, gesit dan kaki-kakinya cukup kuat dan ramping untuk three day event.

Klasifikasi Zoologis dan Asal Muasal Kuda


Kuda termasuk golongan hewan dalam filum Chordata yaitu hewan yang bertulang belakang, kelas Mamalia yaitu hewan yang menyusui anaknya, ordo Perissodactyla yaitu hewan berteracak tak-memamah biak, famili Equidae, dan spesies Equus caballus. Keledai yang digunakan untuk persilangan dengan kuda sejati hingga dihasilkan bagal (mule) merupakan spesies lain yaitu Equus asinus (Soehardjono, 1990).
Seperti diduga, bahwa pada mula pertama, kuda dimanfaatkan bukan sebagai hewan beban atau hewan kesenangan. Suatu kawasan di Perancis bagian Selatan yang digali oleh para petugas arkeologi telah menemukan tulang-tulang dan memperkirakan adanya 100.000 ekor kuda yang terbenam di situ. Ini menimbulkan dugaan bahwa manusia primitif pada waktu dulu telah memburu dan memanfaatkan kuda sebagai sumber bahan makanan manusia. Periode selanjutnya, kuda itu diperah dan sampai saat inipun hal itu masih dilakukan di beberapa bagian dunia. Kuda dapat menghasilkan susu 15 sampai 20 liter sehari. Di beberapa bagian dunia, susu kuda masih dihargai dan lebih disukai daripada susu sapi.
Pendapat yang dikemukakan oleh Darwin (1859), bahwa kuda merupakan sebagai bukti fosil terpenting teori evolusi tentang asal muasal kuda, dewasa ini dianggap sebagai suatu teori ilmiah yang lebih kearah unsur keyakinan dan spekulasi para ahli serta mitos belaka. Satu-satunya teori lain tentang asal muasal yang secara logis berkaitan dengan hukum-hukum ilmu pengetahuan, fenomena alam dan catatan-catatan geologis adalah konsep tentang ciptaan khusus. Teori ini menyatakan bahwa semua bentuk kehidupan itu diciptakan oleh Tuhan dan dirancang untuk berkembangbiak sesuai atau menurut jenisnya (www.yahoo.com/horse). Apabila dua ekor hewan dapat kawin dan menghasilkan keturunan, maka kedua hewan itu tentunya adalah dari jenis yang sama. Begitupun halnya dengan kuda, Equscaballus adalah sejenis hewan yang berasal dari species tersendiri pada zamannya (www.harunyahya.co.id). Boyce Rensberger (1980), dalamwww.harunyahya.co.id, seorang evolusionis yang memberikan sambutan, mengatakan bahwa skenario evolusi kuda tidak didukung oleh catatan fosil dan tidak ditemukan proses evolusi yang menjelaskan evolusi kuda secara bertahap. Seorang evolusionis yang juga penulis ilmu alam, Gordon R. Taylor, menjelaskan kenyataan yang jarang diakui ini dalam bukunya “The Great Evolution Mystery”, kelemahan paling serius dari Darwinisme adalah kegagalan para ahli paleontologi menemukan filogeni atau silsilah organisme yang meyakinkan untuk menunjukkan perubahan evolusi besar (www.harunyahya.co.id).

Mengenal Kuda


Kuda adalah salah satu hewan kesayangan, disebut kesayangan karena mendapat perlakuan istimewa dimana pada waktu pemeliharaannya sesuai dengan perkembangbiakannya. Pendomestikasian kuda dimulai pada saat manusia membutuhkan tenaganya dan sejak saat itulah fungsi hewan peliharaan berubah menjadi hewan kesayangan. Kuda adalah kategori companion animal, merupakan salah satu satwa yang mempunyai peranan sangat penting pengaruhnya dalam perubahan kemajuan perkembangan zaman, yang mana hal itu ditandai dengan adanya perbedaaan fungsi kuda ditengah kehidupan manusia. Sampai dasawarsa pertama abad XX fungsi kuda ialah sebagai alat angkut tradisional dan berbagai kegiatan operasi militer (Oetari, 1990), akan tetapi peranan tersebut mengalami kemunduran seiring berakhirnya Perang Dunia I di daratan Eropa, karena perkembangan teknologi modern serta munculnya era digital yang telah menciptakan dan melahirkan kemajuan yang sangat luar biasa dibidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Peralatan-peralatan perang militer modern lebih dominan digunakan, dan peranan kuda sendiri bergeser untuk kegiatan olahraga yang lebih mendapat perhatian dalam hal kesejahteraannya, juga sebagai hewan yang lebih dari sekedar hewan peliharaan yang harus dihargai dan diperlakukan sebagai mana layaknya.
Di dalam dunia olahraga berkuda dewasa ini tidak jarang para pemilik, pecinta, dan seluruh kalangan yang berkecimpung pada bidang ini memberikan yang terbaik untuk hewan peliharaannya ini, baik dalam segi perawatan, performan, maupun kesejahteraan bagi hewan kuda dengan memberikan pelatihan–pelatihan khusus kepada para petugas lapangan yang mereka pekerjakan, untuk tercapainya pemerataan pengetahuan dalam manajemen pemeliharaan dan pelaksanaan kesehatan, dengan harapan usaha tersebut akan menjamin kondisi kesehatan hewan piaraannya. Usaha tersebut sangatlah beralasan oleh karena tidak sedikitnya kasus penyakit yang tejadi di lapangan baik yang ringan maupun yang serius, disebabkan karena belum tercapainya pemerataan pengetahuan yang seharusnya dikuasai oleh para pelaksana teknis dan konseptor pengelola, mengenai prosedur standar atau treatment serta disiplin persiapan–persiapan yang semestinya diberikan dan dilakukan pada seekor kuda tidak didapatkan pada saat perawatan, terlupakan atau bahkan diabaikan.
Pendapat ini diperkuat oleh adanya keluhan dari pemilik kuda pada saat mendekati pertandingan dimana kudanya tidak boleh mengikuti kompetisi, karena alasan kondisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat pada waktu pemeriksaan MCP (medical control point) oleh tim kesehatan kompetisi (Vet – chek). Masalah lain yang juga sering dijumpai adalah penurunan kondisi kesehatan dan serangan penyakit akut yang menimbulkan kematian beberapa saat setelah selesai menjalani latihan dimana hal ini secara tidak langsung berdampak terhadap penurunan populasi kuda pada tiap–tiap propinsi. Berdasarkan data DITJENAK (2003), pada tahun 1994–1998 total keseluruhan populasi kuda di seluruh propinsi Indonesia rata–rata mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Sementara jika dilihat dari segi ekonomi di negara Amerika Serikat populasi kuda sangat diperhatikan karena kuda merupakan salah satu sektor ladang usaha yang besar. Dewasa ini angka populasi kuda di negara tersebut sudah meningkat dengan mantap dikarenakan oleh ketenaran kuda yang digunakan dalam pertunjukan atau parade, lomba adu kecepatan, dan hobi menunggang sehingga hal ini berpengaruh terhadap banyaknya pekerjaan yang dihubungkan dengan kuda yang jumlahnya melebihi 1.4 juta ekor (Churchill,1982). Total dampak pertumbuhan dan perputaran ekonomi dari industi kuda melebihi $112 miyar pada tahun 1999. sedangkan kegunaan kuda itu sendiri antara lain sekitar 725.000 kuda dilibatkan dalam industri adu kecepatan, 1.974.000 digunakan dalam pertunjukan, 2.970.000 dinikmati sebagai kuda kesenangan dan 1.262.800 digunakan dalam berbagai aktivitas mencakup peternakan dan perkebunan, rodeo, polo, kegiatan kepolisian dan terapi kuda. Di atas 7.1 juta orang Amerika dilibatkan dalam industri ini antara lain sebagai pemilik kuda, pelatih, penyedia jasa layanan, karyawan, pengendara dan pekerja sukarela.
Begitu juga pada prestasi olahraga berkuda Indonesia disiplin equestrian cabang Show–Jumping dalam waktu terakhir ini kemampuan lompatan kuda untuk melewati rintangan dalam suatu event pertandingan mengalami penurunan karena berbagai faktor diantaranya dikarenakan tidak tercapainya optimalisasi pengelolaan perawatan.
Berkaitan dengan masalah tersebut maka perlu kiranya hal ini mendapat perhatian serius untuk lebih memperjelas segala bentuk usaha yang perlu atau tidak dilakukan dalam menangani kasus dan upaya menjaga kondisi normal tubuh seekor kuda, dengan harapan melalui sektor ini Indonesia dapat mendongkrak sirkulasi pertumbuhan ekonomi yang selama ini masih menganggap kuda hanya sebatas sebagai hewan penyalur hobi mewah saja. Untuk menunjang hal ini maka diperlukan peran tenaga medis ataupun perawat yang mengerti dan menguasai dasar ilmu dari bidang ini dengan menekankan etika dimana tindakan-tindakan diagnostik yang tepat harus dilakukan oleh mereka yang berwenang.

Pedoman Budidaya Bunga Melati

Lingkungan tumbuh yang cocok untuk tanaman melati yaitu iklim panas tropik dan lebih disenangi pada tanah yang ringan dan berdrainase baik, kaya bahan organik dengan kelembaban baik. Namun demikian melati juga banyak ditanam pada tanah yang bervariasi jenisnya. Untuk budidaya melati secara komersial diperlukan tanah yang remah, porus, berpasir dan juga kaya bahan organik yang telah terdekomposisi (Pizzetti dan Coaker, 1968).

Umumnya bibit berasal dari stek cabang yang keras, dan setengah keras dengan panjang 5 atau 6 ruas. Bibit melati juga dapat diperoleh dengan cara perundukkan dari cabang basal. Untuk keperluan penanaman secara luas hendaknya dipilih bibit yang sudah mempunyai perakaran baik dan berdaun penuh. Bibit yang baik dapat diperoleh dengan pembibitan yang melalui pendederan di pot kantong plastik (polibag).

* SENTRA PENANAMAN

Di Indonesia Pusat penyebaran tanaman melati terkonsentrasi di Jawa Tengah, terutama di Kabupaten Pemalang, Purbalingga dan Tegal.

* SYARAT PERTUMBUHAN

Iklim
1. Curah hujan 112–119 mm/bulan dengan 6–9 hari hujan/bulan, serta mempunyai iklim dengan 2–3 bulan kering dan 5–6 bulan basah.
2. Suhu udara siang hari 28-36 derajat C dan suhu udara malam hari 24-30 derajat C,
3. Kelembaban udara (RH) yang cocok untuk budidaya tanaman ini 50-80 %.
4. Selain itu pengembangan budi daya melati paling cocok di daerah yang cukup mendapat sinar matahari.

Media Tanam
1. Tanaman melati umumnya tumbuh subur pada jenis tanah Podsolik Merah Kuning (PMK), latosol dan andosol.
2. Tanaman melati membutuhkan tanah yang bertekstur pasir sampai liat, aerasi dan drainase baik, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan memiliki.
3. Derajat keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman ini adalah pH=5–7.

Ketinggian Tempat
Tanaman melati dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 10-1.600 m dpl. Meskipun demikian, tiap jenis melati mempunyai daya adaptasi tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Melati putih (J,sambac) ideal ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl, sedangkan melati Star Jasmine (J.multiflorum) dapat beradaptasi dengan baik hingga ketinggian 1.600 m dpl. Di sentrum produksi melati, seperti di Kabupaten Tegal, Purbalingga dan Pemalang (Jawa Tengah), melati tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai dataran menengah (0-700 m dpl).

* PEDOMAN BUDIDAYA

Pembibitan
1. Teknik Penyemaian Benih : Tancapkan tiap stek pada medium semai 10–15 cm/sepertiga dari panjang stek. Tutup permukaan wadah persemaian dengan lembar plastik bening (transparan) agar udara tetap lembab.
2. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
2.1. Penyiapan tempat semai:
* Siapkan tempat/wadah semai berupa pot berukuran besar/polybag, medium semai (campuran tanah, pasir steril/bersih).
* Periksa dasar wadah semai dan berilah lubang kecil untuk pembuangan air yang berlebihan.
* Isikan medium semai ke dalam wadah hingga cukup penuh/setebal 20–30 cm. Siram medium semai dengan air bersih hingga basah.
2.2. Pemeliharaan bibit stek:
* Lakukan penyiraman secara kontinu 1–2 kali sehari.
* Usahakan bibit stek mendapat sinar matahari pagi.
* Pindahkan tanaman bibit stek yang sudah berakar cukup kuat (umur 1–23 bulan) ke dalam polybag berisi medium tumbuh campuran tanah, pasir dan pupuk organik (1:1:1).
* Pelihara bibit melati secara intensif (penyiraman, pemupukan dan penyemprotan pestisida dosis rendah) hingga bibit berumur 3 bulan.

Pengolahan Media Tanam
1. Pembukaan Lahan
1.1. Bersihkan lokasi untuk kebun melati dari rumput liar (gulma), pepohonan yang tidak berguna/batu-batuan agar mudah pengelolaan tanah.
1.2. Olah tanah dengan cara di cangkul/dibajak sedalam 30-40 cm hingga gembur, kemudian biarkan kering angin selama 15 hari
2. Pembentukan Bedengan : Membentuk bedengan selebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antara bedeng 40–60 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan.
3. Pengapuran : Tanah yang pH-nya masam dapat diperbaiki melalui pengapuran, misalnya dengan kapur kalsit (CaCO3) dolomit {CaMg (CO3)2}, kapur bakar (Quick lime, CaO)/kapur hidrat (Slakked lime,{Ca(OH)2}. Fungsi/kegunaan pengapuran tanah masam adalah untuk menaikan pH tanah, serta untuk menambah unsur-unsur Ca dan Mg.
4. Pemupukan : Tebarkan pupuk kandang di atas permukaan tanah, kemudian campurkan secara merata dengan lapisan tanah atas. Pupuk kandang dimasukkan pada tiap lubang tanam sebanyak 1-3 kg. Dosis pupuk kandang berkisar antara 10-30 ton/hektar. Lubang tanam dibuat ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak antar lubang 100-150 cm. Penyiapan lahan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau/1-2 bulan sebelum musim hujan.

Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanam : Sebulan sebelum tanam, bibit melati diadaptasikan dulu disekitar kebun. Lahan kebun yang siap ditanami diberi pupuk dasar terdiri atas 3 gram TSP ditambah 2 gram KCI per tanaman. Bila tiap hektar lahan terdapat sekitar 60.000 lubang tanam (jarak tanam 1,0 m x 1,5 m), kebutuhan pupuk dasar terdiri atas 180 kg TSP dan 120 kg KCI. Bersama pemberian pupuk dasar dapat ditambahkan “pembenah dan pemantap tanah “ misalnya Agrovit, stratos/asam humus Gro-Mate
2. Pembuatan Lubang Tanam : Bibit melati dalam polybag disiram medium tumbuh dan akar-akarnya. Tiap lubang tanam ditanami satu bibit melati. Tanah dekat pangkal batang bibit melati dipadatkan pelan-pelan agar akar-akarnya kontak langsung dengan air tanah.
3. Cara Penanaman : Jarak tanam dapat bervariasi, tergantung pada bentuk kultur budidaya, kesuburan tanah dan jenis melati yang ditanam, bentuk kultur perkebunan jarak tanam umumnya adalah 1 x 1,5 m, sedang variasi lainnya adalah 40 x 40 cm, 40 x 25 cm dan 100 x 40 cm.

Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman : Cara penyulaman adalah dengan mengganti tanaman yang mati/tumbuhan abnormal dengan bibit yang baru. Teknik penyulaman prinsipnya sama dengan tata laksana penanaman, hanya saja dilakukan pada lokasi/blok/lubang tanam yang bibitnya perlu diganti. Periode penyulaman sebaiknya tidak lebih dari satu bulan setelah tanam. Penyulaman seawal mungkin bertujuan agar tidak menyulitkan pemeliharaan tanam berikutnya dan pertumbuhan tanam menjadi seragam. Waktu penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari, saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas.
2. Penyiangan : Pada umur satu bulan setelah tanam, kebun melati sering ditumbuhi rumput-rumput liar (gulma). Rumput liar ini menjadi pesaing tanaman melati dalam pemenuhan kebutuhan sinar matahari, air dan unsur hara.
3. Pemupukan : Pemupukan tanaman melati dilakukan tiap tiga bulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan terdiri atas Urea 300-700 kg, STP 300-500 kg dan KCI 100-300 kg/ha/tahun. Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara disebar merata dalam parit di antara barisan tanaman / sekeliling tajuk tanaman sedalam 10-15 cm, kemudian ditutup dengan tanah. Pemupukan dapat pula dengan cara memasukan pupuk ke dalam lubang tugal di sekeliling tajuk tanaman melati. Waktu pemupukan adalah sebelum melakukan pemangkasan, saat berbunga, sesuai panen bunga dan pada saat pertumbuhan kurang prima. Pemberian pupuk dapat meningkatkan produksi melati, terutama jenis pupuk yang kaya unsur fosfor (P), seperti Gandasil B (6-20-30)/Hyponex biru (10-40-15) dan waktu penyemprotan pupuk daun dilakukan pada pagi hari (Pukul 09.00) atau sore hari (pukul 15.30-16.30) atau ketika matahari tidak terik menyengat.
4. Pengairan dan Penyiraman : Pada fase awal pertumbuhan, tanaman melati membutuhkan ketersediaan air yang memadai. Pengairan perlu secara kontinyu tiap hari sampai tanaman berumur kurang lebih 1 bulan. Pengairan dilakukan 1-2 kali sehari yakni pada pagi dan sore hari. Cara pengairan adalah dengan disiram iar bersih tiap tanam hingga tanah di sekitar perakaran cukup basah.
5. Waktu Penyemprotan Pestisida : Zat perangsang/zat pengatur Tumbuh (ZPT) dapat digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi bunga, zat perangsang bunga yang berpengaruh baik terhadap pembungaan melati adalah Cycocel (Chloromiguat) dan Etherel. Tanaman melati yang di semprot dengan Cycocel berkonsentrasi 5.000 ppm memberikan hasil bunga yang paling tinggi, yakni 1,45 kg/ tanaman. Cara pemberiannya: zat perangsang bunga disemprotkan pada seluruh bagian tanaman, terutama bagian ujung dan tunas-tunas pembungaan. Konsentrasi yang dianjurkan 3.000 ppm–5.000 ppm untuk Cycocel atau 500-1.500 ppm bila digunakan Ethrel.
6. Lain-lain : Tanaman melati umumnya tumbuh menjalar, kecuali pada beberapa jenis melati, seperti varietas Grand Duke of tuscany yang tipe pertumbuhannya tegak. Tinggi pemangkasan amat tergantung pada jenis melati, jenis melati putih (J.sambac) dapat di pangkas pada ketinggian 75 cm dari permukaan tanah, sedangkan jenis melati Spnish Jasmine (J. officinale var. grandiflorum) setinggi 90 cm dari permukaan tanah.

* PEMANGKASAN

Pemangkasan tanaman pada umumnya dimaksudkan untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi lebih baik seperti yang diinginkan. Pemangkasan juga merupakan salah satu komponen dari aspek pemeliharaan tanaman apabila yang dipangkas adalah cabang atau ranting yang sakit atau kering dan juga cabang­ – cabang yang tidak produktif.

Pada tanaman melati, pemangkasan bentuk dilakukan untuk keperluan melati pot atau taman. J. sambac apabila dipangkas bagian cabang dan ranting-rantingnya secara cermat akan terbentuk tanaman yang mempunyai kanopi yang serasi terhadap ukuran pot dan wadahnya dengan jumlah bunga banyak. Demikian pula J. multiflorum dapat dibentuk menjadi tanaman yang tegak berbentuk payung dan penuh bunga dipermukaan kanopinya. Tanaman tersebut menjadi sangat indah dan menarik apabila diletakkan pada posisi yang tepat di dalam suatu taman.

Budidaya melati J. sambac yang tidak produktif karena telah berumur tua dapat dilakukan pemangkasan berat sampai sekitar 1/4 – 1/3 tinggi tanaman aslinya. Dengan pemangkasan berat tersebut akan tumbuh tunas-tunas baru yang produktif. Agar timbulnya tunas-tunas baru tersebut lebih cepat, pemangkasan tanaman perlu diikuti pengairan secara teratur dan pemberian pupuk secukupnya.

Tanaman J. sambac yang masih produktif, dapat dilakukan pemangkasan pucuk setelah panen bunga selesai. Hal tersebut dimaksudkan untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru lebih cepat sehingga waktu berbunganya lebih awal.

* HAMA DAN PENYAKIT

Tanaman melati tidak luput dari gangguan hama dan penyakit, prinsip pokok dan prioritas teknologi pengendalian hama/penyakit .

1. Pengendalian hayati dilakukan secara maksimal dengan memanfaatkan musuh-musuh alami hama (parasitoid, perdator, patogen) dengan cara:
* memasukan, memelihara, memperbanyak, melepaskan musuh alami
* mengurangi penggunaan pestisida organik sintetik yang berspektrum lebar/menggunakan pestisida selektif.
2. Ekosistem pertanian dikelola dengan cara:
* penggunaan bibit sehat
* sanitasi kebun
* pemupukan berimbang
* pergiliran tanaman yang baik
* penggunaan tanaman perangkap,
3. Pestisida digunakan secara selektif berdasarkan hasil pemantauan dan analisis ekosistem.

Hama
1. Ulat palpita (Palpita unionalis Hubn) :
* Hama ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae, Stadium hama yang merusak tanaman melati adalah larva (ulat).
* Pengendalian: dilakukan dengan cara memotong bagian tanaman yang terserang berat dan menyemprotkan insektisida yang mangkus dan sangkil, misalnya Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 E/Curacron 500 EC .
2. Penggerek bunga (Hendecasis duplifascials) :
* Hama ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae.
* Gejala: menyerang tanaman melati dengan cara menggerek/melubangi bunga sehingga gagal mekar. Kuntum bunga yang terserang menjadi rusak dan kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh cendawan hingga menyebabkan bunga busuk.
* Pengendalian: disemprot dengan insektisida yang mangkus, misalnya Decis 2,5 EC, Cascade 50 EC/Lannate L .
3. Thips (Thrips sp) :
* Thrips termasuk ordo Thysanoptera dan famili Thripidae. Hama ini bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag).
* Gejala: menyerang dengan cara mengisap cairan permukaan daun, terutama daun-daun muda (pucuk).
* Pengendalian: dilakukan dengan cara mengurangi ragam jenis tanaman inang di sekitar kebun melati dan menyemprotkan insektisida yang mangkus : Mesurol 50 WP, Pegasus 500 SC/Dicarzol 25 SP .
4. Sisik peudococcus (Psuedococcus longispinus) :
* Hama ini termasuk ordo Pseudococcidae dan famili Homoptera yang hidup secara berkelompok pada tangkai tunas dan permukaan daun bagian bawah hingga menyerupai sisik berwarna abu-abu atau kekuning-kuningan.
* Gejala: menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan sel tanaman dan mengeluarkan cairan madu.
* Pengendalian: dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang mangkus, misalnya Bassa 500 EC/Nogos 50 EC.
5. Ulat nausinoe (Nausinoe geometralis) :
* Hama ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae.
* Ciri: ngengat berwarna coklat dengan panjang badan rata-rata 12 mm dan panjang rentang sayap kurang lebih 24 mm berwarna coklat dan berbintik-bintik transparan.
* Gejala: menyerang daun tanaman melati identik (sama) dengan serangan ulat P. unionalis.
6. Hama Lain. :
* Hama lain yang sering ditemukan adalah kutu putih (Dialeurodes citri) dan kutu tempurung (scale insects). Bergerombol menempel pada cabang, ranting dan pucuk tanaman melati, menyerang dengan cara mengisap cairan sel, sehingga proses fotosintesis (metabolisme).
* Pengendalian dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang mangkus, seperti Perfekthion 400 EC/Decis 2,5 EC.

Penyakit

1. Hawar daun :
* Penyebab: cendawan (jamur) Rhizcotonia solani Kuhn.
* Gejala: menyerang daun yang letaknya dekat permukaan tanah.
2. Hawar benang (Thread Blight) :
* Penyebab: jamur Marasmiellus scandens (Mass).
* Gejala: menyerang bagian cabang tanaman melati.
3. Hawar bunga (Flower Blight) :
* Penyebab: cendawan (jamur) Curvularia sp. Fusarium sp dan Phoma sp,.
* Gejala: bunga busuk, berwarna coklat muda dan kadang-kadang bunga berguguran.
4. Jamur upas :
* Penyebab: jamur Capnodium salmonicolor. Penyakit ini menyerang batang dan cabang tanaman melati yang berkayu.
* Gejala: terjadi pembusukan yang tertutup oleh lapisan jamur berwarna merah jambu pada bagian tanaman terinfeksi apnodium sp. dan Meliola jasmini Hansf. et Stev. Gejala serangan capnodium adalah permukaan atas daun tertutup oleh kapang jelaga berwarna hitam merata.
5. Bercak daun :
* Penyebab: jamur Pestaloita sp.
* Gejala: bercak-bercak berwarna coklat sampai kehitam-hitaman pada daun.
6. Karat daun (Rust) :
* Penyebab: ganggang hijau parasit (Cephaleuros virescens Kunze).
* Gejala: pada permukaan daun yang terserang tampak bercak-bercak kemerah-merahaan dan berbulu. Penyakit ini umumnya menyerang daun-daun yang tua.
7. Antraknosa :
* Penyebab: jamur Colletotrichum gloesporoides.
* Gejala : terbentuk bintik-bintik kecil berwarna kehitam-hitaman. Bintik-bintik tersebut membesar dan memanjang berwarna merah jambu, terutama pada bagian daun. Serangan berat dapat menyebabkan mati ujung (die back).
8. Penyakit lain :
* Busuk bunga oleh bakteri Erwinia tumafucuens. Bintil akar oleh nematoda Meloidogyne incognito, penyebab abnormilitas perakaran tanaman. Virus kerdil penyebab terhambatnya pertumbuhan tanaman melati, belang-belang daun dan kadang-kadang seluruh ranting dan pucuk menjadi kaku.

* PANEN

Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri bunga melati yang sudah saatnya dipanen adalah ukuran kuntum bunga sudah besar (maksimal) dan masih kuncup / setengah mekar. Produksi bunga melati di Indoensia masih rendah yakni berkisar antara 20-25 kg/hektar/hari. Tanaman melati mulai berbunga pada umur 7-12 bulan setelah tanam. Panen bunga melati dapat dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali sampai umur tanaman antara 5-10 tahun. Setiap tahun berbunga tanaman melati umumnya berlangsung selama 12 minggu (3 bulan).

Cara Panen
Pemetikan bunga melati sebaiknya dilakukan pada pagi sore, yakni saat sinar matahari tidak terlalu terik/suhu udara tidak terlalu panas.

Periode Panen
Hasil panen bunga melati terbanyak berkisar antara 1-2 minggu. Selanjutnya, produksi bunga akan menurun dan 2 bulan kemudian meningkat lagi

Prakiraan Produksi
Produksi bunga melati paling tinggi biasanya pada musim hujan, di Jawa Tengah, panen bunga melati pada musim kemarau menghasilkan 5–10 kg/hektar, sedangkan panen pada musim hujan mencapai 300-1.000kg/ha. Data produksi bunga melati di Indonesia berkisar 1,5–2 ton/ha/th pada musim hujan dan 0,7-1 ton/ha/th pada musim kemarau.

* PASCAPANEN

Pengumpulan
Di tempat terbuka bunga melati akan cepat layu untuk mempertahankan/memperpanjang kesegaran bunga tersebut dihamparkan dalam tampah beralas lembar plastik kemudian disimpan di ruangan bersuhu udara dingin antara 0-5 derajat C.

Sumber :
http://wuryan.wordpress.com/2008/06/18/budidaya-melati/
http://amiere.multiply.com/journal/item/118/Budidaya_Bunga_Melati_Jasmine_officinalle
http://ladangkecil.wordpress.com/2009/10/25/budidaya-bunga-melati/


www.jendelahewan.blogspot.com

Sabtu, 17 September 2011

Mengembangbiakan Landak

Begitu banyak postingan, baik di forum maupun via YM dan sms yang cukup menggelitik saya. Breeding landak. Mungkin nggak cuma landak, begitu ada sesuatu yang mulai booming, berbondong2 orang ingin mulai mengembang biak’kan.
Tapi, satu hal yang harus diingat, landak adalah pet alias mahluk hidup juga. Jd pertanyaan diatas mirip dengan “Punya anak (baby manusia) gampang nggak sih?”
Sebagian orang akan menjawab MUDAH dan sebagian lagi menjawab “SULIT”. Tergantung kecintaan kita pada landak dan ketelatenan kita mengurus pet
Landak memerlukan perlakuan khusus saat hamil. (Proses sampai hamil silahkan buka blok Reproduksi Landak)
1. Suasana yang tenang
Mutlak diperlukan, setenang apa? benar2 tenang dan nyaman, dengan sirkulasi udara yang cukup. Bahkan tenang berarti tenang didalam kandangnya (tidak ada mahkluk lain ataupun landak lain di dalam kandangnya) dan juga tenang diluar kandang. Bahkan setelah melahirkan pun, beeding tidak boleh diganti sampai anak2nya aman. Begitu juga pemberian pakan, usahakan mengganggu seminimal mungkin
2. Makanan yang cukup
Asupan nutrisi yang memadai, baik jumlah asupan protein dan juga air minum’nya
Dua hal diatas adalah hal inti, diluar itu masih banyak hal yang berhubungan dengan karakter landak yang kita miliki. Banyak yang berhasil melahirkan, namun gagal merawat hingga dewasa dengan berbagai kendala, si anak dimakan induknya lah, gak disusuin lah, disingkirkan menjauh dll
Jangan katakan “Tega yah, anak sendiri dimakan”, jujur saya paling sebal dengan pernyataan ini. Si breeder nggak tau kebutuhan si ibu landak, namun malah menyalahkan “ketegaan” si ibu landak. Perlu diketahui, naluri pada beberapa hewan untuk melindungi anaknya adalah dengan memakannya. Bahkan pada anjing, hamster dan beberapa mamalia lain melakukan hal yang sama. Saat sang induk merasa ada ancaman dari luar yang membahayakan anak’nya, maka secara naluri, dia akan menyembunyikan anak’nya dengan cara memasukkan anak’nya kedalam mulut
Jadi, salah siapa donk? salah yang mengancam atau salah yang terancam? tentu saja salah kita sebagai breeder yang kurang menjaga ketenangan saat landak beranak. Gangguan dari tikus serta gonggongan anjing juga bisa menjadi sumber “bahaya” bagi si ibu landak.
Oleh karenanya, saya sarankan, peliharalah landak dalam kurun waktu yang cukup untuk memahami karakternya, baru mulai untuk breeding. Jangan nyemplung langsung breeding, selain bisa rugi, juga bisa bikin stress melihat anakan yang “gagal”

Cara Memandikan Landak

Hedgehog atau landak susu sesuai dengan habitatnya tinggal dipermukaan tanah, mereka wajib dalam kondisi. Oleh sebab itu tidak perlu dimandikan terlalu sering. Hanya karena kebutuhan kita akan landak sebagai pet, maka kita juga mewajibkan mereka bersih dan wangi supaya sehat untuk udara dirumah kita sendiri
Apabila mereka menemukan bebauan yang tidak dikenal, mereka akan menjilat tubuh mereka sendiri untuk menebarkan ludah mereka yang telah berbentuk busa diantara duri mereka dan kegiatan ini membuat mereka jadi kotor..Inilah yang disebut self anointing. Kalau kegiatan self anointing ini semakin sering, sudah saat nya si landak susu mandi.
1. Area memandikan dapat menggunakan baskom, tempat cuci, bak mandi, ataupun wastafel. Saya sendiri lebih suka menggunakan baskom dengan pertimbangan landak tidak mudah memanjat baskom. Sebaiknya air disiapkan sebelum landak dimasukkan. Usahakan selalu mengecek temperatur air terlebih dahulu sebelum mencelupkan si landak agar mereka tidak kaget
Landak susu adalah perenang yang baik, sehingga aman membuat mereka “berenang” di area mandi yang berisi air cukup dalam (tapi jangan coba2 di kolam renang ya), jangan pernah ditinggalkan sendirian, karena apabila mereka lelah berenang, mereka akan tenggelam atau memanjat keluar sehingga bisa jatuh ke lantai. Nah lo, kalau basah2 ngacir ke belakang kulkas kan bisa kesetrum. hehe
2. Untuk sabun atau sampo, bisa mengunakan segala jenis sabun /shampo cair, pilih yang tidak memakai wewangian dan tidak dianjurkan sabun pribadi anda. Akan lebih baik gunakan yang tidak pedih di mata agar tidak menyakiti si landak. Tuangkan kira-kira segenggam ketangan, kemudian usapkan di punggung, perut dan kaki…hindari mata dan telinga. setelah selesai, siram dengan air hingga bersih. Jika ada kotoran yang sulit lepas atau membandel (Jangan dikasi rinso anti noda yach. hihihi), gunakan saja sikat gigi untuk membersihkan. Setelah itu bilas hingga bersih, lalu bungkus si landak dalam handuk, dan tepuk2 hingga kering. Pastikan mereka punya tempat berlindung yang kering untuk menunggu duri mereka kering total, atau boleh juga di hair dryer (Jangan menggunakan suhu yang paling panas, gunakan saja suhu hangat dan selalu berpindah2 tempat, agar panasnya tidak menyengat kulit landak)
3. Pastikan sikat giginya bukan bekas menyikat gigi maupun menyikat lantai kamar mandi ataupun pantat panci, karena segala cairan kimia itu berbahaya untuk binatang peliharaan.
4. Dan yang terakhir, jangan mengajak landak anda piknik keluar setelah mandi, biarpun cuaca sedang cerah. Landak susu amat sensitif dengan perubahan cuaca, bisa pilek. Juga jangan dicantol dijemuran. hehe… Ini serius, jangan dijemur dibawah sinar matahari langsung, karena landak yg terkena sinar matahari langsung bisa buta
5. Jika punya beberapa landak, disarankan, jangan memandikan sekaligus, karena ada kemungkinan, landak saling melukai karena berantem atau dijadikan sarana untuk memanjat.