Ikan Mas Komet (Carassius Auratus) terbiasa dipanggil ikan komet memiliki ciri fisik yang sangat khas dari ikan lain, bentuknya yang sedikit agak memanjang dan memipih tegak (compresed) menjadi pembeda dari ikan lainnya. Selain itu, letak mulutnya pun terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun atas tiga baris dan gigi geraham secara umum.
Hampir seluruh tubuh ikan komet ditutupi oleh sisik kecuali beberapa varietas yang memiliki beberapa sisik. Sisik ikan komet termasuk sisik sikloid dan kecil. Sirip punggung memanjang dan pada bagian belakangnya berjari keras. Letak sirip punggung bersebrangan dengan sirip perut. Garis rusuk atau line literalis pada ikan mas komet tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dan melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Ikan berpostur ramping ini pertama kali dibudidayakan oleh masyarakat Cina pada tahun 1729. Awalnya bentuk ikan komet ini seperti ikan maskoki. Karena kedua jenis ikan mas ini masih satu kerabat, yakni dari keluarga Cyprinidae. Pada zaman Dinasti Ming (tahun 1368-1644) popularitas ikan komet makin menanjak. Saat inilah bermunculan berbagai macam ikan mas koki dengan tubuh yang unik dan bervariasi. Setelah itu, penyebaran ikan komet berkembang sampai ke Negeri Sakura.
Ikan komet di alam biasanya memijah setelah musim hujan karena pada saat musim hujan banyak daratan yang terendam air yang telah kering pada beberapa bulan. Hal inilah yang merangsang ikan untuk memijah pada tempat yang tergenang tersebut. Hal ini disebabkan karena daerah yang terendam tersebut mengeluarkan bau khas dari dalam tanah, sehingga merangsang induk ikan memijah di tempat itu. Selain itu, ikan komet betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air dangkal yang tertembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada akar tanaman air yang lembut.
Siklus hidup ikan yang memiliki darah keturunan ikan maskoki ini dimulai dari perkembangan di dalam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma), kemudian telur akan dibuahi oleh sperma dan menetas dalam waktu 2-3 hari. Setelah itu menjadi larva dan menjadi ikan komet dewasa yang cantik.
Apakah anda tertarik untuk menjadi hobies ikan komet, dijamin anda tidak akan kecewa dengan penampilan ikan yang mampu membuat akuarium atau kolam di rumah anda menjadi ramai dan hidup karena lenggak-lenggok tubuhnya yang ramping bak peragawati kelas atas dengan ekornya yang panjang menjuntai (komet slayer).....Dijamin karena saya juga seorang hobies komet berat hehehe...ohh komet, I Love You Forever!!!
Atau mungkin anda tertarik untuk berbisnis ikan komet? tidak ada ruginya, dengan catatan pasarnya ada lho....Berminat?
Sumber : http://duniaikan-surabaya.blogspot.com/ikan-mas-komet-carassius-auratus.html
www.jendelahewan.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA IKAN KOMET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA IKAN KOMET. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Oktober 2012
Selasa, 09 Oktober 2012
Tren Ikan Komet Lejitkan Omzet Jutaan Per Bulan
Seperti fesyen, ikan hias juga memiliki tren. Setiap tahun tren ikan hias akan berganti-ganti bergantung pada selera. Apa yang sedang digandrungi tahun ini belum tentu akan bertahan hingga tahun depan.
Ada banyak jenis yang biasa dicari penghobi ikan hias ini. Ada ikan hias live bearer, tetra, koki mutiara, koi, cupang, manfish, arwana, dan oscar.
Namun pilihan pada ikan ini semua bergantung pada tren yang ada. Tren tersebut, menurut Muhammad Zen, Ketua Klub Discus, Jakarta, dibuat oleh peternak ikan.
Sementara untuk ikan laut bergantung dari pasokan yang sedang ada. “Tren dibuat oleh peternak,” ujarnya. Menurutnya, pedagang tidak bisa menciptakan tren.
Kalau dibuat tren tapi ikannya tidak ada, menurutnya, maka tidak bisa menjadi tren. Dari tren ini, para penggemar kemudian berlomba untuk mencari motif, bentuk, dan warna apa dari tren tersebut yang sedang diminati.
Setiap tahun, tren ikan akan selalu berubah-ubah bergantung pada budidaya yang dihasilkan oleh para petani ikan dan juga para penangkap ikan.
Pedagang hanya mengekor apa yang dihasilkan para pembudidaya. Dulu, pada 2007, sempat merebak tren ikan lou han di pasaran. Namun kemudian bergeser ke ikan komet yang memiliki bentuk mini. Bentuk komet yang kecil membuat jenis ini diminati untuk menghiasi akuarium di rumah.
Menurut Hartono, 39 tahun, salah seorang penghobi ikan hias, krisis seperti tahun lalu membuat tren ikan hias berubah. Kalau dulu para penggemar ikan hias banyak berburu ikan yang mahal, para penggemar kemudian bergeser mencari ikan murah.
Komet merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dicari karena berharga murah. Ikan ini dihargai 5.000 rupiah per ekornya.
Ikan ini juga memiliki keunggulan dari warna yang memiliki beberapa varian, seperti putih, merah, jingga, dan campuran antara warna-warna tersebut.
Namun demikian, menurut Zen, kalau salah satu jenis ikan sedang ngetren bukan berarti ikan lain tidak diminati.
Sebagai penggemar ikan hias jenis discus ia akan tetap setia memelihara ikan jenis ini. Bahkan, sampai sekarang ia hanya memiliki discus dan tidak tertarik untuk memelihara ikan jenis lain. Walau beberapa ikan berkembang mengikuti tren, ada juga jenis ikan yang tidak mengikuti kaidah ini.
Hartono mengatakan ikan cupang yang berharga murah itu ternyata tetap diminati orang sepanjang waktu.
Ikan yang biasa diadu ini harganya bahkan hanya seribu rupiah per ekor untuk yang biasa. Namun yang memiliki motif dan warna bagus dengan ukuran antara 3 – 5 sentimeter, dapat dihargai tinggi hingga mencapai 1 juta rupiah.
Untuk tahun 2010 ini berdasarkan polling yang dilakukan oleh para penggemar ikan hias lewat Internet, ada beberapa ikan hias yang akan banyak diminati.
Dalam urutan 5 besar, ikan tersebut adalah discus, arwana, catfish, pleco, dan fresh water stingray. Berbeda dengan ikan air tawar, ikan air laut trennya lebih stabil.
Pasalnya, tidak banyak yang memelihara ikan hias air laut karena harganya yang lebih mahal. Belum lagi cara perawatannya. Tidak heran, jenis ikan hias air tawarlah yang lebih banyak diminati oleh para penghobi.
Seperti yang dilakukan Wagiso (34) yang bermukim di Dusun Sukadamai Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin dirintisnya pada tahun 2005 lalu. Ia tengah membudidayakan ikan hias, mulai dari ikan Koi, ikan Koki serta Komet.
Pria yang akrab disapa dengan nama Giso ini awal merintis budidaya ikan hiasnya hanya bermodalkan Rp 9 juta. Modal sebesar itu ia pinjam dari orang tuanya untuk membeli benih ikan hiasnya serta membuat enam kolam dengan ukuran lebar 10 meter dan panjang 10 meter.
Ketika itu, pria yang beristrikan Tuti Handayani (33) itu masih menjadi peternak ikan hias. Ada sekitar 30 ribu ekor benih ikan hias dibelinya dari penangkar di sekitar kecamatan Beringin. Giso pun lalu membudidayakan ikan hiasnya untuk dijual kembali kepada agen ikan hias.Tak membutuhkan waktu lama untuk meraup untung. Hanya empat bulan saja, 30 ribu ekor ikan hias peliharaannya berkembang subur dan berhasil dipanen. Ikan hiasnya pun saat itu langsung laris diborong agen ikan hias.
Dari penjualan panen perdana itu, Giso pertama kali mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta dari omset Rp12 juta karena Rp 9 juta adalah modalnya. “Omset pertama saya Rp 12 juta dari penjualan ikan hias, semuanya habis diborong agen ikan hias,” bilang bapak beranak dua ini.
Sebenarnya, kata Giso, saat pertama merintis budidaya ikan hias, biaya paling banyak dihabiskan untuk membuat enam petak kolam pembesaran serta biaya pemasangan jaring (untuk menghindari burung) serta biaya pakan ikan hias buatan pabrik. “Pembuatan kolam serta pemasangan jaring saya lakukan sendiri,” tambah Giso.
Setelah beberapa bulan menjadi peternak ikan hias, kemudian Giso beralih menjadi pembudidaya. “Menjadi peternak ikan benihnya tergantung kepada pembudidaya, sedangkan bila dilakukan sendiri akan mendapat keuntungan tersendiri,” bilang Giso yang pernah gagal menjadi petani padi ini.
Menjadi pembudidaya ikan hias bukan hanya semata mencari marjin keuntungan besar. Tetapi demi mendapatkan selalu benih ikan hias unggul. Sebab, benih dapat ditentukan sendiri.
Ternyata, budidaya ikan hias tak semudah membalikkan telapak tanggan. Berbagai tantangan mulai mencari kesulitan mencari induk berkulitas hingga menghadapi ikan predator dan membuat kolam pemijahan, harus dilakukan Wagiso sendiri.
“Saya belajar sendiri untuk membudidayakan ikan hias, untuk menambah pengetahuan tentang ikan hias. Saya belajar dari banyak buku tentang pembudidayan ikan,” bilangnya.
Lamban tapi pasti, kerja keras Wagiso membudidayakan ikan hias mulai terlihat. “Pertamakali ikan hias jenis Koi berhasil dibudidayakan, jumlahnya sekitar 5 ribu ekor,” sebutnya.
Bahkan pembudidayan ikan hias tidak terbatas ikan Koi, tetapi ikan Koki serta ikan Komet yang banyak diminati pasar lokal menjadi target budidayanya. Untuk pemasaran ikan hasil budidayanya, per ekor jenis Koi dengan ukuran 5-8 inci dibanderolnya Rp 5.000 - Rp 12.000. Ikan Koki dengan ukuran 5-8 inci yang sama dibanderol Rp 1.000 - Rp 10.000 dan jenis Komet dengan ukuran 5-8 inci dilepas dengan harga Rp 1.000 - Rp 10.000.
Dengan luas kolam sekitar 1 hektar di tiga tempat berbeda, kini Wagiso mampu meraup untung Rp 3 juta per bulannya. Untung itu untung bersih setelah diotong biaya pakan ikan dan biaya lainnya.
Tak Harapkan Pemkab dan Bank
Sulitnya memperoleh pinjaman dari bank maupun sulitnya mendapat perhatian dari pemerintah, tak membuat Wagiso harus ‘ngemis’ kepada Pemkab dan Bank.
Dengan bermodalkan nekad dan pinjaman uang dari keluarga, membuatnya memberanikan diri membuka usaha budidaya ikan hias. Padahal, di pertengahan jalan, berbagai kendala menghampiri usaha yang dirintisnya itu. Mulai kesulitan mencari benih, pakan sampai tehnologi. Tapi tantangan itu dihadapinya sendiri tanpa peminta bantuan orang lain, pemerintah maupun bank.
“Jujur, kadang saya iri dengan budidaya ikan ikan lele, mas, gurami. Sebab, pembinaan serta bantuan benih serta modal kerja terhadap budidaya tersebut selalu terbuka. Berbeda dengan budidaya ikan hisa,” kesalnya.
Padahal, kata Wagiso, di beberapa daerah di pulau jawa para penangkar serta peternak ikan hias mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Bila dibandingkan dengan penghasilan pembudidaya ikan hias jauh lebih menjanjikan karena ikan hias tidak tergantung dengan usia masa panennya.
Selain itu, permintaan ikan hias disesuaikan dengan ukurannya serta bentuk tubuh yang diinginkan pembeli, sedangkan penjualannya tidak dihitung per kilogramnya tetapi per ekor. ”Ikan lele, ikan mas dijual dengan hitungan kilogram. Kalau ikan hias per ekornya dapat mencapai ratusan ribu rupiah,” terangnya.
Bila dilihat dari keuntungan, sambung Wagiso, ikan hias lebih menjanjikan. “Ikan hias dijual dengan harga yang telah disepakti. Jadi, salah besar kalau bank tak melirik pengusaha budidaya ikan hias yang sangat memberikan keuntungan besar,” pungkasnya sambil tersenyum.
Sumber : www.suaramedia.com
www.jendelahewan.blogspot.com
Ada banyak jenis yang biasa dicari penghobi ikan hias ini. Ada ikan hias live bearer, tetra, koki mutiara, koi, cupang, manfish, arwana, dan oscar.
Namun pilihan pada ikan ini semua bergantung pada tren yang ada. Tren tersebut, menurut Muhammad Zen, Ketua Klub Discus, Jakarta, dibuat oleh peternak ikan.
Sementara untuk ikan laut bergantung dari pasokan yang sedang ada. “Tren dibuat oleh peternak,” ujarnya. Menurutnya, pedagang tidak bisa menciptakan tren.
Kalau dibuat tren tapi ikannya tidak ada, menurutnya, maka tidak bisa menjadi tren. Dari tren ini, para penggemar kemudian berlomba untuk mencari motif, bentuk, dan warna apa dari tren tersebut yang sedang diminati.
Setiap tahun, tren ikan akan selalu berubah-ubah bergantung pada budidaya yang dihasilkan oleh para petani ikan dan juga para penangkap ikan.
Pedagang hanya mengekor apa yang dihasilkan para pembudidaya. Dulu, pada 2007, sempat merebak tren ikan lou han di pasaran. Namun kemudian bergeser ke ikan komet yang memiliki bentuk mini. Bentuk komet yang kecil membuat jenis ini diminati untuk menghiasi akuarium di rumah.
Menurut Hartono, 39 tahun, salah seorang penghobi ikan hias, krisis seperti tahun lalu membuat tren ikan hias berubah. Kalau dulu para penggemar ikan hias banyak berburu ikan yang mahal, para penggemar kemudian bergeser mencari ikan murah.
Komet merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dicari karena berharga murah. Ikan ini dihargai 5.000 rupiah per ekornya.
Ikan ini juga memiliki keunggulan dari warna yang memiliki beberapa varian, seperti putih, merah, jingga, dan campuran antara warna-warna tersebut.
Namun demikian, menurut Zen, kalau salah satu jenis ikan sedang ngetren bukan berarti ikan lain tidak diminati.
Sebagai penggemar ikan hias jenis discus ia akan tetap setia memelihara ikan jenis ini. Bahkan, sampai sekarang ia hanya memiliki discus dan tidak tertarik untuk memelihara ikan jenis lain. Walau beberapa ikan berkembang mengikuti tren, ada juga jenis ikan yang tidak mengikuti kaidah ini.
Hartono mengatakan ikan cupang yang berharga murah itu ternyata tetap diminati orang sepanjang waktu.
Ikan yang biasa diadu ini harganya bahkan hanya seribu rupiah per ekor untuk yang biasa. Namun yang memiliki motif dan warna bagus dengan ukuran antara 3 – 5 sentimeter, dapat dihargai tinggi hingga mencapai 1 juta rupiah.
Untuk tahun 2010 ini berdasarkan polling yang dilakukan oleh para penggemar ikan hias lewat Internet, ada beberapa ikan hias yang akan banyak diminati.
Dalam urutan 5 besar, ikan tersebut adalah discus, arwana, catfish, pleco, dan fresh water stingray. Berbeda dengan ikan air tawar, ikan air laut trennya lebih stabil.
Pasalnya, tidak banyak yang memelihara ikan hias air laut karena harganya yang lebih mahal. Belum lagi cara perawatannya. Tidak heran, jenis ikan hias air tawarlah yang lebih banyak diminati oleh para penghobi.
Seperti yang dilakukan Wagiso (34) yang bermukim di Dusun Sukadamai Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin dirintisnya pada tahun 2005 lalu. Ia tengah membudidayakan ikan hias, mulai dari ikan Koi, ikan Koki serta Komet.
Pria yang akrab disapa dengan nama Giso ini awal merintis budidaya ikan hiasnya hanya bermodalkan Rp 9 juta. Modal sebesar itu ia pinjam dari orang tuanya untuk membeli benih ikan hiasnya serta membuat enam kolam dengan ukuran lebar 10 meter dan panjang 10 meter.
Ketika itu, pria yang beristrikan Tuti Handayani (33) itu masih menjadi peternak ikan hias. Ada sekitar 30 ribu ekor benih ikan hias dibelinya dari penangkar di sekitar kecamatan Beringin. Giso pun lalu membudidayakan ikan hiasnya untuk dijual kembali kepada agen ikan hias.Tak membutuhkan waktu lama untuk meraup untung. Hanya empat bulan saja, 30 ribu ekor ikan hias peliharaannya berkembang subur dan berhasil dipanen. Ikan hiasnya pun saat itu langsung laris diborong agen ikan hias.
Dari penjualan panen perdana itu, Giso pertama kali mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta dari omset Rp12 juta karena Rp 9 juta adalah modalnya. “Omset pertama saya Rp 12 juta dari penjualan ikan hias, semuanya habis diborong agen ikan hias,” bilang bapak beranak dua ini.
Sebenarnya, kata Giso, saat pertama merintis budidaya ikan hias, biaya paling banyak dihabiskan untuk membuat enam petak kolam pembesaran serta biaya pemasangan jaring (untuk menghindari burung) serta biaya pakan ikan hias buatan pabrik. “Pembuatan kolam serta pemasangan jaring saya lakukan sendiri,” tambah Giso.
Setelah beberapa bulan menjadi peternak ikan hias, kemudian Giso beralih menjadi pembudidaya. “Menjadi peternak ikan benihnya tergantung kepada pembudidaya, sedangkan bila dilakukan sendiri akan mendapat keuntungan tersendiri,” bilang Giso yang pernah gagal menjadi petani padi ini.
Menjadi pembudidaya ikan hias bukan hanya semata mencari marjin keuntungan besar. Tetapi demi mendapatkan selalu benih ikan hias unggul. Sebab, benih dapat ditentukan sendiri.
Ternyata, budidaya ikan hias tak semudah membalikkan telapak tanggan. Berbagai tantangan mulai mencari kesulitan mencari induk berkulitas hingga menghadapi ikan predator dan membuat kolam pemijahan, harus dilakukan Wagiso sendiri.
“Saya belajar sendiri untuk membudidayakan ikan hias, untuk menambah pengetahuan tentang ikan hias. Saya belajar dari banyak buku tentang pembudidayan ikan,” bilangnya.
Lamban tapi pasti, kerja keras Wagiso membudidayakan ikan hias mulai terlihat. “Pertamakali ikan hias jenis Koi berhasil dibudidayakan, jumlahnya sekitar 5 ribu ekor,” sebutnya.
Bahkan pembudidayan ikan hias tidak terbatas ikan Koi, tetapi ikan Koki serta ikan Komet yang banyak diminati pasar lokal menjadi target budidayanya. Untuk pemasaran ikan hasil budidayanya, per ekor jenis Koi dengan ukuran 5-8 inci dibanderolnya Rp 5.000 - Rp 12.000. Ikan Koki dengan ukuran 5-8 inci yang sama dibanderol Rp 1.000 - Rp 10.000 dan jenis Komet dengan ukuran 5-8 inci dilepas dengan harga Rp 1.000 - Rp 10.000.
Dengan luas kolam sekitar 1 hektar di tiga tempat berbeda, kini Wagiso mampu meraup untung Rp 3 juta per bulannya. Untung itu untung bersih setelah diotong biaya pakan ikan dan biaya lainnya.
Tak Harapkan Pemkab dan Bank
Sulitnya memperoleh pinjaman dari bank maupun sulitnya mendapat perhatian dari pemerintah, tak membuat Wagiso harus ‘ngemis’ kepada Pemkab dan Bank.
Dengan bermodalkan nekad dan pinjaman uang dari keluarga, membuatnya memberanikan diri membuka usaha budidaya ikan hias. Padahal, di pertengahan jalan, berbagai kendala menghampiri usaha yang dirintisnya itu. Mulai kesulitan mencari benih, pakan sampai tehnologi. Tapi tantangan itu dihadapinya sendiri tanpa peminta bantuan orang lain, pemerintah maupun bank.
“Jujur, kadang saya iri dengan budidaya ikan ikan lele, mas, gurami. Sebab, pembinaan serta bantuan benih serta modal kerja terhadap budidaya tersebut selalu terbuka. Berbeda dengan budidaya ikan hisa,” kesalnya.
Padahal, kata Wagiso, di beberapa daerah di pulau jawa para penangkar serta peternak ikan hias mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Bila dibandingkan dengan penghasilan pembudidaya ikan hias jauh lebih menjanjikan karena ikan hias tidak tergantung dengan usia masa panennya.
Selain itu, permintaan ikan hias disesuaikan dengan ukurannya serta bentuk tubuh yang diinginkan pembeli, sedangkan penjualannya tidak dihitung per kilogramnya tetapi per ekor. ”Ikan lele, ikan mas dijual dengan hitungan kilogram. Kalau ikan hias per ekornya dapat mencapai ratusan ribu rupiah,” terangnya.
Bila dilihat dari keuntungan, sambung Wagiso, ikan hias lebih menjanjikan. “Ikan hias dijual dengan harga yang telah disepakti. Jadi, salah besar kalau bank tak melirik pengusaha budidaya ikan hias yang sangat memberikan keuntungan besar,” pungkasnya sambil tersenyum.
Sumber : www.suaramedia.com
www.jendelahewan.blogspot.com
Minggu, 07 Oktober 2012
Inilah Kelebihan Budidaya Ikan Komet
Budidaya ikan hias merupakan salah satu usaha agribisnis yang sangat potensial di Indonesia, di mana dilihat dari semakin banyaknya orang yang menekuni usaha budidaya ini. Salah satu ikan hias yang potensial untuk dibudidayakan yakni ikan komet.
Pemilik nama latin Carassius Auratus ini merupakan ikan yang mudah dalam pemeliharaanya dan dapat dipelihara di akuarium maupun kolam tanah. Karena kemudahannya tersebut, budidaya ikan hias air tawar akhirnya mampu memberikan kehidupan bagi banyak orang yang menekuninya.
Memiliki buntut panjang dengan warna cerah ikan komet mampu menuai popularitas dalam waktu singkat. Dulu peminat salah satu jenis ikan hias yang namanya dicomot dari nama benda angkasa (Komet Helley) ini sangat banyak, hingga mengalami booming. Lalu, perlahan tapi pasti, pasarnya menghilang. Tapi, kini, entah kapan tepatnya, orang-orang mulai melirik lagi ikan yang dikembangbiakkan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 ini.
Di Bandar Lampung, kita dapat menemui pehobi sekaligus pembudidaya yang menekuni bisnis ikan hias ini, yaitu Abdul Malik (45). Disampaikan olehnya, nilai ekonomis ikan hias lebih tinggi daripada ikan lainnya seperti jenis konsumsi.
"Kita melakukan ini karena peluang usaha dan potensi ekonomis budidaya ikan hias lebih menggiurkan terlebih bentuk ikan ini yang sangat lucu untuk dipelihara dalam akuarium," jelasnya pada Tribun, Minggu (29/4/2012).
Salah satu faktor penting dalam membudidayakan ikan hias ini terletak pada teknik pembenihannya. Dengan pembenihan yang berkualitas dan kontinyu akan memberikan hasil yang maksimal dalam budidaya ikan hias ini.
Namun di balik segala kelebihannya, ikan komet termasuk ikan yang sulit ditangani saat pemijahan. Ikan ini termasuk ke dalam kelompok ikan hias air tawar, yang tidak memelihara telurnya. Jadi telur yang dikeluarkan oleh induk diletakkan pada substrat (landasan).
Sebagai ikan hias tentu saja ikan komet memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan ikan yang dikonsumsi. Misalnya, dilihat dari ekornya, ikan komet memiliki ekor yang lebih panjang dan indah daripada ikan pada umumnya.
Ikan komet juga memiliki warna yang bagus yaitu perpaduan antara merah keoranyean dengan putih. "Ikan komet dikenal memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan ikan maskoki, karena ia merupakan strain atau keturunan ikan maskoki," jelas pria 45 tahun tersebut.
Perbedaan utama dengan ikan maskoki terletak di ukurannya yg lebih besar dari ikan mas dan adanya tonjolan daging (sungut) kecil di atas lubang hidungnya. Lebih dari itu semua, harga ikan komet relatif murah dibandingkan ikan maskoki, sehingga diminati konsumen ikan hias.
Ikan komet berukuran tak lebih dari sebuah jari orang dewasa. Ukuran paling besar adalah sebesar empat jari orang dewasa. Dalam pemasarannya, yang berukuran dua jari yang lebih diminati para penjual ikan hias. Karena kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan ukuran akuarium penghobi.
Karena itu pulalah, ikan komet berukuran dua jari bernilai jual lebih tinggi daripada yang berukuran sejari, walau para penjual ikan hias juga menerima ikan komet seukuran jari orang dewasa. Sekadar informasi, ikan komet sebesar dua jari dijual dengan harga Rp 2.500 per ekor, sedangkan yang seukuran jari hanya Rp 1.000 per ekor. Harga-harga ini merupakan harga dari petani ikan komet.
"Untuk yang sebesar tiga jari orang dewasa biasanya dijadikan indukan. Para petani ikan komet biasanya tidak mau menjual indukan karena fungsinya untuk reproduksi, sehingga mereka enggan untuk menjual indukan mereka meski nilai jualnya lebih tinggi lagi yaitu Rp 5.000 per ekor," ungkapnya.
Berkaitan dengan itu, jika ingin membudidayakan ikan komet setidaknya memiliki indukan sebanyak 300 ekor. Dengan kemampuan induk betina bertelur tiga bulan sekali selama dua tahun dan masa panen 20 hari sekali, seorang petani ikan komet tidak akan pernah kehabisan pasokan. Sebab setiap tiga bulan sekali, petani tersebut dapat panen ikan komet tanpa henti.
Sumber : http://lampung.tribunnews.com/2012/04/29/inilah-kelebihan-budidaya-ikan-komet
www.jendelahewan.blogspot.com
Pemilik nama latin Carassius Auratus ini merupakan ikan yang mudah dalam pemeliharaanya dan dapat dipelihara di akuarium maupun kolam tanah. Karena kemudahannya tersebut, budidaya ikan hias air tawar akhirnya mampu memberikan kehidupan bagi banyak orang yang menekuninya.
Memiliki buntut panjang dengan warna cerah ikan komet mampu menuai popularitas dalam waktu singkat. Dulu peminat salah satu jenis ikan hias yang namanya dicomot dari nama benda angkasa (Komet Helley) ini sangat banyak, hingga mengalami booming. Lalu, perlahan tapi pasti, pasarnya menghilang. Tapi, kini, entah kapan tepatnya, orang-orang mulai melirik lagi ikan yang dikembangbiakkan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 ini.
Di Bandar Lampung, kita dapat menemui pehobi sekaligus pembudidaya yang menekuni bisnis ikan hias ini, yaitu Abdul Malik (45). Disampaikan olehnya, nilai ekonomis ikan hias lebih tinggi daripada ikan lainnya seperti jenis konsumsi.
"Kita melakukan ini karena peluang usaha dan potensi ekonomis budidaya ikan hias lebih menggiurkan terlebih bentuk ikan ini yang sangat lucu untuk dipelihara dalam akuarium," jelasnya pada Tribun, Minggu (29/4/2012).
Salah satu faktor penting dalam membudidayakan ikan hias ini terletak pada teknik pembenihannya. Dengan pembenihan yang berkualitas dan kontinyu akan memberikan hasil yang maksimal dalam budidaya ikan hias ini.
Namun di balik segala kelebihannya, ikan komet termasuk ikan yang sulit ditangani saat pemijahan. Ikan ini termasuk ke dalam kelompok ikan hias air tawar, yang tidak memelihara telurnya. Jadi telur yang dikeluarkan oleh induk diletakkan pada substrat (landasan).
Sebagai ikan hias tentu saja ikan komet memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan ikan yang dikonsumsi. Misalnya, dilihat dari ekornya, ikan komet memiliki ekor yang lebih panjang dan indah daripada ikan pada umumnya.
Ikan komet juga memiliki warna yang bagus yaitu perpaduan antara merah keoranyean dengan putih. "Ikan komet dikenal memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan ikan maskoki, karena ia merupakan strain atau keturunan ikan maskoki," jelas pria 45 tahun tersebut.
Perbedaan utama dengan ikan maskoki terletak di ukurannya yg lebih besar dari ikan mas dan adanya tonjolan daging (sungut) kecil di atas lubang hidungnya. Lebih dari itu semua, harga ikan komet relatif murah dibandingkan ikan maskoki, sehingga diminati konsumen ikan hias.
Ikan komet berukuran tak lebih dari sebuah jari orang dewasa. Ukuran paling besar adalah sebesar empat jari orang dewasa. Dalam pemasarannya, yang berukuran dua jari yang lebih diminati para penjual ikan hias. Karena kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan ukuran akuarium penghobi.
Karena itu pulalah, ikan komet berukuran dua jari bernilai jual lebih tinggi daripada yang berukuran sejari, walau para penjual ikan hias juga menerima ikan komet seukuran jari orang dewasa. Sekadar informasi, ikan komet sebesar dua jari dijual dengan harga Rp 2.500 per ekor, sedangkan yang seukuran jari hanya Rp 1.000 per ekor. Harga-harga ini merupakan harga dari petani ikan komet.
"Untuk yang sebesar tiga jari orang dewasa biasanya dijadikan indukan. Para petani ikan komet biasanya tidak mau menjual indukan karena fungsinya untuk reproduksi, sehingga mereka enggan untuk menjual indukan mereka meski nilai jualnya lebih tinggi lagi yaitu Rp 5.000 per ekor," ungkapnya.
Berkaitan dengan itu, jika ingin membudidayakan ikan komet setidaknya memiliki indukan sebanyak 300 ekor. Dengan kemampuan induk betina bertelur tiga bulan sekali selama dua tahun dan masa panen 20 hari sekali, seorang petani ikan komet tidak akan pernah kehabisan pasokan. Sebab setiap tiga bulan sekali, petani tersebut dapat panen ikan komet tanpa henti.
Sumber : http://lampung.tribunnews.com/2012/04/29/inilah-kelebihan-budidaya-ikan-komet
www.jendelahewan.blogspot.com
Rabu, 03 Oktober 2012
Ikan Komet Miliki Ciri Fisik yang Sangat Khas
Ikan komet merupakan salah satu strain dari ikan maskoki. Ikan komet dikembangkan di Amerika sekitar akhir abad ke-19. Nama komet diambil dari nama benda angkasa yaitu komet Helley. Ikan komet memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan ikan maskoki.
Ikan Komet (Carassius Auratus) memiliki ciri fisik yang sangat khas dari ikan lain, bentuknya yang sedikit agak memanjang dan memipih tegak (compresed) menjadi pembeda dari ikan lainnya. Selain itu, letak mulutnya pun terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut. Diujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun atas tiga baris dan gigi geraham secara umum.
Hampir seluruh tubuh ikan komet ditutupi oleh sisik kecuali beberapa varietas yang memiliki beberapa sisik. Sisik ikan komet termasuk sisik sikloid dan kecil. Sirip punggung memanjang dan pada bagian belakangnya berjari keras. Letak sirip punggung bersebrangan dengan sirip perut. Garis rusuk atau line literalis pada ikan mas komet tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dan melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor
"Ikan komet di alam biasanya memijah setelah musim hujan karena pada saat musim hujan banyak daratan yang terendam air yang telah kering pada beberapa bulan. Hal ini merangsang ikan untuk memijah pada tempat yang tergenang tersebut. Hal ini disebabkan karena daerah yang terendam tersebut mengeluarkan bau khas dari dalam tanah, sehingga merangsang induk ikan memijah di tempat itu," jelas Abdul yang menekuni berbisnis ikan hias dari orangtuanya, Minggu (29/4/2012).
Selain itu, ikan komet betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air dangkal yang tertembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada akar tanaman air yang lembut.
Sedangkan untuk siklus hidup, ikan yang memiliki darah keturunan ikan koki ini dimulai dari perkembangan di alam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma), kemudian telur akan dibuahi oleh sperma dan menetas dalam waktu 2-3 hari. Setelah itu menjadi larva dan menjadi dewasa.
Sumber : http://lampung.tribunnews.com/2012/04/29/ikan-komet-miliki-ciri-fisik-yang-sangat-khas
www.jendelahewan.blogspot.com
Ikan Komet (Carassius Auratus) memiliki ciri fisik yang sangat khas dari ikan lain, bentuknya yang sedikit agak memanjang dan memipih tegak (compresed) menjadi pembeda dari ikan lainnya. Selain itu, letak mulutnya pun terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut. Diujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun atas tiga baris dan gigi geraham secara umum.
Hampir seluruh tubuh ikan komet ditutupi oleh sisik kecuali beberapa varietas yang memiliki beberapa sisik. Sisik ikan komet termasuk sisik sikloid dan kecil. Sirip punggung memanjang dan pada bagian belakangnya berjari keras. Letak sirip punggung bersebrangan dengan sirip perut. Garis rusuk atau line literalis pada ikan mas komet tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dan melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor
"Ikan komet di alam biasanya memijah setelah musim hujan karena pada saat musim hujan banyak daratan yang terendam air yang telah kering pada beberapa bulan. Hal ini merangsang ikan untuk memijah pada tempat yang tergenang tersebut. Hal ini disebabkan karena daerah yang terendam tersebut mengeluarkan bau khas dari dalam tanah, sehingga merangsang induk ikan memijah di tempat itu," jelas Abdul yang menekuni berbisnis ikan hias dari orangtuanya, Minggu (29/4/2012).
Selain itu, ikan komet betina biasanya bertelur di dekat tumbuhan di dalam air dangkal yang tertembus sinar matahari, telur-telur tersebut kemudian menempel pada akar tanaman air yang lembut.
Sedangkan untuk siklus hidup, ikan yang memiliki darah keturunan ikan koki ini dimulai dari perkembangan di alam gonad (ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma), kemudian telur akan dibuahi oleh sperma dan menetas dalam waktu 2-3 hari. Setelah itu menjadi larva dan menjadi dewasa.
Sumber : http://lampung.tribunnews.com/2012/04/29/ikan-komet-miliki-ciri-fisik-yang-sangat-khas
www.jendelahewan.blogspot.com
Selasa, 02 Oktober 2012
Budidaya Ikan Komet
Di Indonesia, komet termasuk ikan hias yang banyak memiliki fandsnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya diadakan kontes komet dengan peserta yang boleh dibilang sangat banyak. Jenis ikan dengan telur diserakkan ini merupakan yang terbanyak. Ikan ini menempatkan telurnya di sembarang tempat, bisa di tanaman air atau dijatuhkan begitu saja di dasar perairan.
Komet (Carassius auratus-auratus) pertama kali dibudidayakan oleh masyarakat Cina pada tahun 1729. awalnya bentuk komet sama seperti ikan koki. Karena memang kedua ikan ini berasal dari satu kerabat, yakni dari keluarga Cyprinidae. Kemudian pada zaman Dinasti Ming (1368-1644) popularitas komet semakin menanjak. Saat inilah bermunculan ikan koki dengan tubuh yang unik dan bervariasi. Setelah itu, penyebaran komet berkembang ke Jepang. Di negara Matahari Terbit, komet terus mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga dihasilkan jenis-jenis baru dengan bentuk yang lebih variatif seperti saat ini.
Ikan komet merupakan ikan yang cukup rawan terhadap penyakit hal ini disebabkan karena kondisi air pada tempat pemeliharaan ikan komet cepat menjadi kotor disebabkan oelh hasil buangan dari ikan komet yang banyak (kotoran). Komet (carassius auratus-auratus) adalah jenis ikan air tawar yang hidup si perairan dangkal yang airnya mengalir tenang dan berudara sejuk. Ikan ini digemari masyarakat karena keindahan warna, gerak-gerik, dan bentuk tubuhnya yang unik. Berbeda dengan ikan hias lainnya, komet termasuk ikan ikan hias sepanjang masa. Hal ini dibuktikan dengan selalu tersedianya komet disetiap toko penjual ikan hias, sehingga harga jual cenderung stabil.
1. Persiapan wadah pemijahan
Untukl kegiatan pembenihan ikan komet, wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 60x40x40 cm dengan bentuk persegi panjang. Akuarium yang digunakan sebelumnya dibersihkan dengan menggunakan sabun kemudian dibilas dengan air tawar dan selanjutnya dijemur untuk menghilangkan jamur-jamur dan bakteri yang masih menempel.
Seperti kita ketahui bahwa air merupakan media yang sangat penting bagi budidaya ikan. Untuk itu perlu disediakan air yang sangat bersih dan steril. Air yang digunakan untuk pemijahan ini adalah air yang berasal dari air sumur yang sudah diendapkan selama 24 jam, karena kemungkinan airnya mengandung zat-zat yang beracun yang akan mengakibatkan dan menggangu budidaya ikan. Untuk itu perlu diendapkan. Air yang diendapkan diaerasi kuat supaya kandungan oksigen yang ada di dalamnya bertambah. Air tersebut dimasukan ke dalam akuarium dengan ketinggian 30 cm, kemudian aerasi.
Ikan komet termasuk kedalam kelompok ikan hias air tawar yang tidak memelihara telurnya. Jadi telur yang dikeluarkan oleh induk diletakkan pada substrat. Sehingga dalam kegaitan pemijahannya perlu dipersiapkan substrat sebagai tempat menempelnya telur. Ada banyak jenis tanaman air yang dapat dipakai sebagai substrat. Tanaman air tesebut dibagi kedalam dua kelompok yaitu tanaman tumbuh mengapung dan tanaman tumbuh didasar. Dalam kegiatan praktik digunakan salah satu tanaman air dari dua kelompok tersebut. Tanaman air yang digunakan yaitu tanaman yang tumbuhnya mengapung seperti enceng gondok (Eichornia crassipes).
Sebelum enceng gondok digunakan terlebih dahulu disuci-hamakan. Enceng gondok yang akan digunakan sebelumnya sudah direndam dalam larutan Methylin blue dengan dosis 100 ppm selama 5 – 10 menit. Dengan demikian enceng gondok terbebas dari bakteri maupun pathogen. Setelah itu, barulah enceng gondok dimasukkan kedalam akuarium.
2. Memilih induk
Pemilihan induk merupakan langkah awal yang harus dilakukan pada kegiatan pembenihan Untuk ikan komet sendiri sangat mudah dilakukan pemilihan terhadap induk yang matang gonad. Pemilihan induk ikan komet dapat dilakukan dengan melihat ciri – ciri sebagai berikut :
Induk Jantan : Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
Induk Betina : Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
Induk yang telah matang jika diurut pelan kerarah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih.
Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahan.
Selain itu, induk ikan komet yang siap untuk melakukan pemijahan dapat ditandai dengan adanya tingkah laku dari kedua induk tersebut. Tingkah laku yang ditunjukkan adalah saling kejar – kejaran. Dimana, induk jantan terus mengejar atau mendekati induk betina, dengan adanya tingkah laku seperti ini maka dapat diasumsikan bahwa induk ikan komet tersebut siap untuk dipijahkan. Perbandingan induk yang digunakan dalam kegiatan praktikum pemijahan ikan komet adalah 1 : 2 (jantan : betina). Induk yang sudah dipemilihan selanjutnya dimasukkan kedalam wadah pemijahan.
3. Pemijahan Induk yang digunakan dalam kegiatan ini dengan perbandingan 1:2 nduk yang digunakan dalam praktikum yaitu dengan perbandingan 1 : 2 ( ♀ : ♂). Induk jantan satu yang merupakan ikan koi dengan berat tubuh 93, 28 gr dan induk betina sebanyak dua ekor yang merupakan ikan komet, induk betina pertama mempunyai berat tubuh 72,96 gr dan induk betina yang kedua mempunyai berat 42,97 gr. Induk ini kemudin dimasukkan dalam akuarium yang sudah diisi air dan dilengkapi dengan enceng gondok sebagai substrat. Pemijahan ikan komet berlangsung pada malam hingga waktu dini hari. Induk dimasukkan pada sore hari, biasanya besok sudah menempel pada enceng gondok.
4. Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan pada akurium pemijahan langsung. Karena ikan komet termasuk kedalam kelompok ikan hias air tawar yang tidak memelihara telurnya maka, setelah proses pemijahan selesai dan telur sudah melekat pada substrat induk ikan komet diangkat atau dikeluarkan dari dalam akuarium. Hal ini dilakukan agar induk ikan komet tidak memakan telur yang telah dikeluarkan tersebut.
Setelah 2 – 3 hari telur akan menetas, setelah menetas kemudian enceng gondok diangkat dari dalam akuarium. Selain itu, perlu dilakukan perhitungan akan larva yang dihasilkan. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh larva sebanyak 5999 ekor. Larva yang baru menetas belum diberi makan hingga berumur 2 – 3 hari karena masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sac-nya (kuning telur).
5. Pemeliharaan Larva
Larva umur 7 hari hanya sebesar jarum, kondisinya masih lemah, tetapi sudah mulai belajar memperoleh makanan dari luar tubuhnya. Untuk itu, perlu disediakan makanan yang memenuhi syarat untuk mengurangi risiko kematian benih.
Bak pendederan harus bersih dan sudah dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1-2 hari untuk membunuh bibit parasit. Selanjutnya tebarkan pupuk kandang berupa kotoran ayam 500 g/m². Sementara air dialirkan, pupuk diaduk-aduk hingga betul-betul larut dan pertahankan ketinggian air dalam bak sampai 30 cm. Dua hari setelah pemupukan, bibit kutu air ditanam dan dibiarkan selama 5 hari agar tumbuh dan berkembang biak. Setelah itu, larva komet dari bak penetasan siap dilepas ke dalam bak pemeliharaan.
Pemberian makanan tambahan diperlukan setelah 15 hari pemeliharaan. Memasuki pemeliharaan 15 hari kedua harus ada aliran air masuk, apalagi setelah makanan tambahan mulai diberikan. Genap di usia sebulan, anak komet mulai tampak bentuk aslinya. Badannya bulat, ekor dan kadang warna dari sebagian anak komet sudah keluar. pemilihan awal ditujukan untuk memilih ikan yang mempunyai ekor persis sama seperti ekor indukya, kemudian bentuk badan dan ukurannya. Bisa terjadi, dari hasil pemilihan ini diperoleh beberapa kelompok anak komet berlainan ukuran serta kualitasnya, termasuk kelompok anak komet yang harus disingkirkan.
Pembenihan Ikan Komet
Pemilihan Induk
Induk ikan komet yang akan dipijahkan sebaiknya dipelihara dalam tempat yang terpisah antara jantan dan betina agar pertumbuhan induk ikan opimal dan tidak terjadi perkawinan yang tidak diinginkan. Pemilihan induk ikan komet dapat dilakukan dengan melihat ciri – ciri sebagai berikut :
Induk Jantan
o Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
o Induk yang telah matang jika diurut pelan kearah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih
Induk Betina
o Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
o Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahann Jika diurut, keluar cairan kuning bening.
Selain itu, induk ikan komet yang siap untuk melakukan pemijahan dapat ditandai dengan adanya tingkah laku dari kedua induk tersebut. Tingkah laku yang ditunjukkan adalah saling kejar – kejaran. Dimana, induk jantan terus mengejar atau mendekati induk betina, dengan adanya tingkah laku seperti ini maka dapat diasumsikan bahwa induk ikan komet tersebut siap untuk dipijahkan.
Pemijahan
Sebenarnya pemijahan ikan komet dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan ini memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan komet aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan.
Penetasan
Penetasan pada pemijahan ikan komet dapat dilakukan di media pemijahan dan dapat dilakukan dengan mengganti air media pemijahan sebanyak ¼ bagian dari total air pemijahan. Kualitas air yang baik untuk penetasan telur ikan komet adalah suhu maksimal 27-290C, oksigen 5-6 ppm, pH 6,5-7,0 dengan kecerahan yang bersih. Penetasan telur ini juga dapat ditambahkan dengan heater untuk mengoptimalkan suhu.
Perkembangan Telur
Pertumbuhan dan perkembangan dimulai dengan peleburan ovum (sel telur) dengan spermatozoa (sel sperma), dan dihasilkan zigot. Zigot akan bermitosis terus-menerus. Fase-fase perkembangan zigot melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Stadium Morula
Pada perkembangan awal, zigot membelah menjadi 2, kemudian 4, 8, dan seterusnya membentuk suatu wujud seperti buah murbei yang disebut morula. Morula mengandung banyak sel hasil mitosis yang berkumpul menjadi satu kesatuan.
b. Stadium Blastula
Dari morula menjadi blastula. Dalam tahap ini masih berlangsung proses pembelahan sel sehingga terbentuk suatu rongga pada bagian tengah yang disebut blastosol.
c. Stadium Gastrula
Dari blastula menjadi gastrula. Dalam tahap ini terjadi pembentukan lubang lekukan (blastopor) yang mempunyai dua lapisan. Selanjutnya, sel-sel bagian permukaan lapisan ektoderm mengalami pelekukan ke dalam (invaginasi). Sel-sel tersebut mengisi ruang antara ektoderm dan endoderm membentuk lapisan mesoderm.
d. Organogenesis (Pembentukan Organ)
Pada tahap ini terjadi diferensiasi (perkembangan sel-sel membentuk struktur dan fungsi khusus) dari: 1) Ektoderm menjadi kulit, sistem saraf, hidung (alat-alat indra), anus, kelenjar-kelenjar kulit, dan mulut. 2) Mesoderm menjadi tulang, otot, ginjal, jantung, pembuluh darah, dan alat kelamin. 3) Endoderm menjadi kelenjar-kelenjar yang mempunyai hubungan dengan alat pencernaan, paru-paru, dan alat-alat pencernaan. Setelah organogenesis selesai, selanjutnya penyempurnaan embrio menjadi fetus yang telah siap dilahirkan (larva ikan).
Sumber : http://ikanpeliharaan-ku.blogspot.com/2012/02/budidaya-ikan-komet.html
www.jendelahewan.blogspot.com
Komet (Carassius auratus-auratus) pertama kali dibudidayakan oleh masyarakat Cina pada tahun 1729. awalnya bentuk komet sama seperti ikan koki. Karena memang kedua ikan ini berasal dari satu kerabat, yakni dari keluarga Cyprinidae. Kemudian pada zaman Dinasti Ming (1368-1644) popularitas komet semakin menanjak. Saat inilah bermunculan ikan koki dengan tubuh yang unik dan bervariasi. Setelah itu, penyebaran komet berkembang ke Jepang. Di negara Matahari Terbit, komet terus mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga dihasilkan jenis-jenis baru dengan bentuk yang lebih variatif seperti saat ini.
Ikan komet merupakan ikan yang cukup rawan terhadap penyakit hal ini disebabkan karena kondisi air pada tempat pemeliharaan ikan komet cepat menjadi kotor disebabkan oelh hasil buangan dari ikan komet yang banyak (kotoran). Komet (carassius auratus-auratus) adalah jenis ikan air tawar yang hidup si perairan dangkal yang airnya mengalir tenang dan berudara sejuk. Ikan ini digemari masyarakat karena keindahan warna, gerak-gerik, dan bentuk tubuhnya yang unik. Berbeda dengan ikan hias lainnya, komet termasuk ikan ikan hias sepanjang masa. Hal ini dibuktikan dengan selalu tersedianya komet disetiap toko penjual ikan hias, sehingga harga jual cenderung stabil.
1. Persiapan wadah pemijahan
Untukl kegiatan pembenihan ikan komet, wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 60x40x40 cm dengan bentuk persegi panjang. Akuarium yang digunakan sebelumnya dibersihkan dengan menggunakan sabun kemudian dibilas dengan air tawar dan selanjutnya dijemur untuk menghilangkan jamur-jamur dan bakteri yang masih menempel.
Seperti kita ketahui bahwa air merupakan media yang sangat penting bagi budidaya ikan. Untuk itu perlu disediakan air yang sangat bersih dan steril. Air yang digunakan untuk pemijahan ini adalah air yang berasal dari air sumur yang sudah diendapkan selama 24 jam, karena kemungkinan airnya mengandung zat-zat yang beracun yang akan mengakibatkan dan menggangu budidaya ikan. Untuk itu perlu diendapkan. Air yang diendapkan diaerasi kuat supaya kandungan oksigen yang ada di dalamnya bertambah. Air tersebut dimasukan ke dalam akuarium dengan ketinggian 30 cm, kemudian aerasi.
Ikan komet termasuk kedalam kelompok ikan hias air tawar yang tidak memelihara telurnya. Jadi telur yang dikeluarkan oleh induk diletakkan pada substrat. Sehingga dalam kegaitan pemijahannya perlu dipersiapkan substrat sebagai tempat menempelnya telur. Ada banyak jenis tanaman air yang dapat dipakai sebagai substrat. Tanaman air tesebut dibagi kedalam dua kelompok yaitu tanaman tumbuh mengapung dan tanaman tumbuh didasar. Dalam kegiatan praktik digunakan salah satu tanaman air dari dua kelompok tersebut. Tanaman air yang digunakan yaitu tanaman yang tumbuhnya mengapung seperti enceng gondok (Eichornia crassipes).
Sebelum enceng gondok digunakan terlebih dahulu disuci-hamakan. Enceng gondok yang akan digunakan sebelumnya sudah direndam dalam larutan Methylin blue dengan dosis 100 ppm selama 5 – 10 menit. Dengan demikian enceng gondok terbebas dari bakteri maupun pathogen. Setelah itu, barulah enceng gondok dimasukkan kedalam akuarium.
2. Memilih induk
Pemilihan induk merupakan langkah awal yang harus dilakukan pada kegiatan pembenihan Untuk ikan komet sendiri sangat mudah dilakukan pemilihan terhadap induk yang matang gonad. Pemilihan induk ikan komet dapat dilakukan dengan melihat ciri – ciri sebagai berikut :
Induk Jantan : Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
Induk Betina : Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
Induk yang telah matang jika diurut pelan kerarah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih.
Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahan.
Selain itu, induk ikan komet yang siap untuk melakukan pemijahan dapat ditandai dengan adanya tingkah laku dari kedua induk tersebut. Tingkah laku yang ditunjukkan adalah saling kejar – kejaran. Dimana, induk jantan terus mengejar atau mendekati induk betina, dengan adanya tingkah laku seperti ini maka dapat diasumsikan bahwa induk ikan komet tersebut siap untuk dipijahkan. Perbandingan induk yang digunakan dalam kegiatan praktikum pemijahan ikan komet adalah 1 : 2 (jantan : betina). Induk yang sudah dipemilihan selanjutnya dimasukkan kedalam wadah pemijahan.
3. Pemijahan Induk yang digunakan dalam kegiatan ini dengan perbandingan 1:2 nduk yang digunakan dalam praktikum yaitu dengan perbandingan 1 : 2 ( ♀ : ♂). Induk jantan satu yang merupakan ikan koi dengan berat tubuh 93, 28 gr dan induk betina sebanyak dua ekor yang merupakan ikan komet, induk betina pertama mempunyai berat tubuh 72,96 gr dan induk betina yang kedua mempunyai berat 42,97 gr. Induk ini kemudin dimasukkan dalam akuarium yang sudah diisi air dan dilengkapi dengan enceng gondok sebagai substrat. Pemijahan ikan komet berlangsung pada malam hingga waktu dini hari. Induk dimasukkan pada sore hari, biasanya besok sudah menempel pada enceng gondok.
4. Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan pada akurium pemijahan langsung. Karena ikan komet termasuk kedalam kelompok ikan hias air tawar yang tidak memelihara telurnya maka, setelah proses pemijahan selesai dan telur sudah melekat pada substrat induk ikan komet diangkat atau dikeluarkan dari dalam akuarium. Hal ini dilakukan agar induk ikan komet tidak memakan telur yang telah dikeluarkan tersebut.
Setelah 2 – 3 hari telur akan menetas, setelah menetas kemudian enceng gondok diangkat dari dalam akuarium. Selain itu, perlu dilakukan perhitungan akan larva yang dihasilkan. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh larva sebanyak 5999 ekor. Larva yang baru menetas belum diberi makan hingga berumur 2 – 3 hari karena masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sac-nya (kuning telur).
5. Pemeliharaan Larva
Larva umur 7 hari hanya sebesar jarum, kondisinya masih lemah, tetapi sudah mulai belajar memperoleh makanan dari luar tubuhnya. Untuk itu, perlu disediakan makanan yang memenuhi syarat untuk mengurangi risiko kematian benih.
Bak pendederan harus bersih dan sudah dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1-2 hari untuk membunuh bibit parasit. Selanjutnya tebarkan pupuk kandang berupa kotoran ayam 500 g/m². Sementara air dialirkan, pupuk diaduk-aduk hingga betul-betul larut dan pertahankan ketinggian air dalam bak sampai 30 cm. Dua hari setelah pemupukan, bibit kutu air ditanam dan dibiarkan selama 5 hari agar tumbuh dan berkembang biak. Setelah itu, larva komet dari bak penetasan siap dilepas ke dalam bak pemeliharaan.
Pemberian makanan tambahan diperlukan setelah 15 hari pemeliharaan. Memasuki pemeliharaan 15 hari kedua harus ada aliran air masuk, apalagi setelah makanan tambahan mulai diberikan. Genap di usia sebulan, anak komet mulai tampak bentuk aslinya. Badannya bulat, ekor dan kadang warna dari sebagian anak komet sudah keluar. pemilihan awal ditujukan untuk memilih ikan yang mempunyai ekor persis sama seperti ekor indukya, kemudian bentuk badan dan ukurannya. Bisa terjadi, dari hasil pemilihan ini diperoleh beberapa kelompok anak komet berlainan ukuran serta kualitasnya, termasuk kelompok anak komet yang harus disingkirkan.
Pembenihan Ikan Komet
Pemilihan Induk
Induk ikan komet yang akan dipijahkan sebaiknya dipelihara dalam tempat yang terpisah antara jantan dan betina agar pertumbuhan induk ikan opimal dan tidak terjadi perkawinan yang tidak diinginkan. Pemilihan induk ikan komet dapat dilakukan dengan melihat ciri – ciri sebagai berikut :
Induk Jantan
o Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
o Induk yang telah matang jika diurut pelan kearah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih
Induk Betina
o Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
o Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahann Jika diurut, keluar cairan kuning bening.
Selain itu, induk ikan komet yang siap untuk melakukan pemijahan dapat ditandai dengan adanya tingkah laku dari kedua induk tersebut. Tingkah laku yang ditunjukkan adalah saling kejar – kejaran. Dimana, induk jantan terus mengejar atau mendekati induk betina, dengan adanya tingkah laku seperti ini maka dapat diasumsikan bahwa induk ikan komet tersebut siap untuk dipijahkan.
Pemijahan
Sebenarnya pemijahan ikan komet dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan ini memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan komet aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan.
Penetasan
Penetasan pada pemijahan ikan komet dapat dilakukan di media pemijahan dan dapat dilakukan dengan mengganti air media pemijahan sebanyak ¼ bagian dari total air pemijahan. Kualitas air yang baik untuk penetasan telur ikan komet adalah suhu maksimal 27-290C, oksigen 5-6 ppm, pH 6,5-7,0 dengan kecerahan yang bersih. Penetasan telur ini juga dapat ditambahkan dengan heater untuk mengoptimalkan suhu.
Perkembangan Telur
Pertumbuhan dan perkembangan dimulai dengan peleburan ovum (sel telur) dengan spermatozoa (sel sperma), dan dihasilkan zigot. Zigot akan bermitosis terus-menerus. Fase-fase perkembangan zigot melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Stadium Morula
Pada perkembangan awal, zigot membelah menjadi 2, kemudian 4, 8, dan seterusnya membentuk suatu wujud seperti buah murbei yang disebut morula. Morula mengandung banyak sel hasil mitosis yang berkumpul menjadi satu kesatuan.
b. Stadium Blastula
Dari morula menjadi blastula. Dalam tahap ini masih berlangsung proses pembelahan sel sehingga terbentuk suatu rongga pada bagian tengah yang disebut blastosol.
c. Stadium Gastrula
Dari blastula menjadi gastrula. Dalam tahap ini terjadi pembentukan lubang lekukan (blastopor) yang mempunyai dua lapisan. Selanjutnya, sel-sel bagian permukaan lapisan ektoderm mengalami pelekukan ke dalam (invaginasi). Sel-sel tersebut mengisi ruang antara ektoderm dan endoderm membentuk lapisan mesoderm.
d. Organogenesis (Pembentukan Organ)
Pada tahap ini terjadi diferensiasi (perkembangan sel-sel membentuk struktur dan fungsi khusus) dari: 1) Ektoderm menjadi kulit, sistem saraf, hidung (alat-alat indra), anus, kelenjar-kelenjar kulit, dan mulut. 2) Mesoderm menjadi tulang, otot, ginjal, jantung, pembuluh darah, dan alat kelamin. 3) Endoderm menjadi kelenjar-kelenjar yang mempunyai hubungan dengan alat pencernaan, paru-paru, dan alat-alat pencernaan. Setelah organogenesis selesai, selanjutnya penyempurnaan embrio menjadi fetus yang telah siap dilahirkan (larva ikan).
Sumber : http://ikanpeliharaan-ku.blogspot.com/2012/02/budidaya-ikan-komet.html
www.jendelahewan.blogspot.com
Kamis, 09 Februari 2012
BUDIDAYA IKAN KOMET
Di Indonesia, komet termasuk ikan hias yang banyak memiliki fandsnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya diadakan kontes komet dengan peserta yang boleh dibilang sangat banyak. Jenis ikan dengan telur diserakkan, ini merumakananyang terbanyak. Ikan ini menempatkan telurnya di sembarang tempat, bisa di tanaman air atau di jatuhkan begitu saja di dasar perairan.
Ikan komet merumakananikan yang cukup rawan terhadap penyakit hal ini disebabkan karena kondisi air pada tempat pemeliharaan ikan komet cepat menjadi kotor disebabkan oelh hasil buangan dari ikan komet yang banyak (kotoran). Komet (carassius auratus-auratus) adalah jenis ikan air tawar yang hidup si perairan dangkal yang airnya mengalir tenang dan berudara sejuk. Ikan ini digemari masyarakat karena keindahan warna, gerak-gerik, dan bentuk tubuhnya yang unik. Berbeda dengan ikan hias lainnya, komet termasuk ikan ikan hias sepanjang masa. Hal ini dibuktikan dengan selalu tersedianya komet disetiap toko penjual ikan hias, sehingga harga jual cenderung stabil.
1. Persiapan wadah pemijahan
Untukl kegiatan pembenihan ikan komet, wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 60x40x40 cm dengan bentuk persegiu panjang. Akuarium yang digunakan sebelumnya dibersihkan dengan menggunakan sabun kemudian dibilas dengan air tawar dan selanjutnya dijemur untuk menghilangkan jamur-jamur dan bakteri yang masih menempel.
Seperti kita ketahui bahwa air merumakananmedia yang sangat penting bagi budidaya ikan. Untuk itu perlu disediakan air yang sangat bersih dan steril. Air yang digunakan untuk pemijahan ini adalah air yang bberasal dari air sumur yang sudah diendapkan selama 24 jam, karena kemungkinan airnya mengandung zat-zat yang beracun yang akan mengakibatkan dan menggangu budidaya ikan. Untuk itu perlu diendapkan. Air yang diendapkan diaerasi kuat supaya kandungan oksigen yang ada di dal;mnya bertambah. Air terserbut dimasukana kedalam akuarium dengan ketinggian 30 cm, kemudian aerasi.
Ikan komet termasuk kedalam kelompok ikan hias air tawar yang tidak memelihara telurnya. Jadi telur yang dikeluarkan oleh induk diletakkan pada substrat. Sehingga dalam kegaitan pemijahannya perlu dipersiapkan substrat sebagai tempat menempelnya telur. Ada banyak jenis tanaman air yang dapat dipakai sebagai substrat. Tanaman air tesebut dibagi kedalam dua kelompok yaitu tanaman tumbuh mengapung dan tanaman tumbuh didasar. Dalam kegiatan praktik digunakan salah satu tanaman air dari dua kelompok tersebut. Tanaman air yang digunakan yaitu tanaman yang tumbuhnya mengapung seperti enceng gondok (Eichornia crassipes).
Gambar 3: Substrat (Eceng gondok)
![]() |
| Eceng gondok |
Sebelum enceng gondok digunakan terlebih dahulu disucihamakan. Enceng gondok yang akan digunakan sebelumnya sudah direndam dalam larutan Methylin blue dengan dosis 100 ppm selama 5 – 10 menit. Dengan demikian enceng gondok terbebas dari bakteri maupun pathogen. Setelah itu, barulah enceng gondok dimasukkan kedalam akuarium.
2. Memilih induk
pemilihan induk merumakananlangkah awal yang harus dilakukan pada kegiatan pembenihan Untuk ikan komet sendiri sangat mudah dilakukan pemilihanterhadap induk yang matang gonad. pemilihaninduk ikan komet dapat dilakukan dengan melihat ciri – ciri sebagai berikut :
Induk Jantan : Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
Induk Betina : Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
Induk yang telah matang jika diurut pelan kerarah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih
Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahan.
Selain itu, induk ikan komet yang siap untuk melakukan pemijahan dapat ditandai dengan adanya tingkah laku dari kedua induk tersebut. Tingkah laku yang ditunjukkan adalah saling kejar – kejaran. Dimana, induk jantan terus mengejar atau mendekati induk betina, dengan adanya tingkah laku seperti ini maka dapat diasumsikan bahwa induk ikan komet tersebut siap untuk dipijahkan. Perbandingan induk yang digunakan dalam kegiatan praktikum pemijahan ikan komet adalah 1 : 2 (jantan : betina). Induk yang sudah dipemilihanselanjutnya dimasukkan kedalam wadah pemijahan.
3. Pemijahan
| Pemijahan |
Induk yang digunakan dalam kegiatan ini dengan perbandingan 1:2 nduk yang digunakan dalam praktikum yaitu dengan perbandingan 1 : 2 ( ♀ : ♂). Induk jantan satu yang merumakananikan koi dengan berat tubuh 93, 28 gr dan induk betina sebanyak dua ekor yang merumakananikan komet, induk betina pertama mempunyai berat tubuh 72,96 gr dan induk betina yang kedua mempunyai berat 42,97 gr. Induk ini kemudin dimasukkan dalam akuarium yang sudah diisi air dan dilengkapi dengan enceng gondok sebagai substrat. Pemijahan ikan komet berlangsung pada malam hingga waktu dini hari. Induk dimasukkan pada sore hari, biasanya besok sudah menempel pada enceng gondok.
4. Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan pada akurium pemijahan langsung. Karena ikan komet termasuk kedalam kelompok ikan hias air tawar yang tidak memelihara telurnya maka, setelah proses pemijahan selesai dan telur sudah melekat pada substrat induk ikan komet diangkat atau dikeluarkan dari dalam akuarium. Hal ini dilakukan agar induk ikan komet tidak memakan telur yang telah dikeluarkan tersebut.
Setelah 2 – 3 hari telur akan menetas, setelah menetas kemudian enceng gondok diangkat dari dalam akuarium. Selain itu, perlu dilakukan perhitungan akan larva yang dihasilkan. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh larva sebanyak 5999 ekor. Larva yang baru menetas belum diberi makan hingga berumur 2 – 3 hari karena masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sac-nya (kuning telur).
5. Pemeliharaan Larva
Larva umur 7 hari hanya sebesar jarum, kondisinya masih lemah, tetapi sudah mulai belajar memperoleh makanandari luar tubuhnya. Untuk itu, perlu disediakan makananyang memenuhi syarat untuk mengurangi risiko kematian benih.
Bak pendederan harus bersih dan sudah dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1-2 hari untuk membunuh bibit parasit. Selanjutnya tebarkan pupuk kandang berupa kotoran ayam 500 g/m². Sementara air dialirkan, pupuk diaduk-aduk hingga betul-betul larut dan pertahankan ketinggian air dalam bak sampai 30 cm. Dua hari setelah pemupukan, bibit kutu air ditanam dan dibiarkan selama 5 hari agar tumbuh dan berkembang biak. Setelah itu, larva komet dari bak penetasan siap dilepas ke dalam bak pemeliharaan.
Pemberian makanantambahan diperlukan setelah 15 hari pemeliharaan. Memasuki pemeliharaan 15 hari kedua harus ada aliran air masuk, apalagi setelah makanantambahan mulai diberikan. Genap diusia sebulan, anak komet mulai tampak bentuk aslinya. Badannya bulat, ekor dan kadang warna dari sebagian anak komet sudah keluar. pemilihanawal ditujukan untuk memilih ikan yang mempunyai ekor persis sama seperti ekor indukya, kemudian bentuk badan dan ukurannya. Bisa terjadi, dari hasil pemilihanini diperoleh beberapa kelompok anak komet berlainan ukuran serta kualitasnya, termasuk kelompok anak komet yang harus disingkirkan.
Pembenihan Ikan Komet
2.3.1 pemilihanInduk
Induk ikan komet yang akan dipijahkan sebaiknya dipelihara dalam tempat yang terpisah antara jantan dan betina agar pertumbuhan induk ikan opimal dan tidak terjadi perkawinan yang tidak diinginkan. pemilihaninduk ikan komet dapat dilakukan dengan melihat ciri – ciri sebagai berikut :
Induk Jantan
o Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
o Induk yang telah matang jika diurut pelan kerarah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih
Induk Betina
o Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
o Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerahan merahann Jika diurut, keluar cairan kuning bening.
Selain itu, induk ikan komet yang siap untuk melakukan pemijahan dapat ditandai dengan adanya tingkah laku dari kedua induk tersebut. Tingkah laku yang ditunjukkan adalah saling kejar – kejaran. Dimana, induk jantan terus mengejar atau mendekati induk betina, dengan adanya tingkah laku seperti ini maka dapat diasumsikan bahwa induk ikan komet tersebut siap untuk dipijahkan.
2.3.2 Pemijahan
Sebenarnya pemijahan ikan komet dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan ini memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang memijah, induk-induk ikan komet aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan.
2.3.3 Penetasan
Penetasan pada pemijahan ikan komet dapat dilakukan di media pemijahan dan dapat dilakukan dengan mengganti air media pemijahan sebanyak ¼ bagian dari total air pemijahan. Kualitas air yang baik untuk penetasan telur ikan komet adalah suhu maksimal 27-290C, oksigen 5-6 ppm, pH 6,5-7,0 dengan kecerahan yang bersih. Penetasan telur ini juga dapat ditambahkan dengan heater untuk mengoptimalkan suhu.
2.3.4. Perkembangan Telur
Pertumbuhan dan perkembangan dimulai dengan peleburan ovum (sel telur) dengan spermatozoa (sel sperma), dan dihasilkan zigot. Zigot akan bermitosis terus-menerus.
Fase-fase perkembangan zigot melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Stadium Morula
Pada perkembangan awal, zigot membelah menjadi 2, kemudian 4, 8, dan seterusnya membentuk suatu wujud seperti buah murbei yang disebut morula. Morula mengandung banyak sel hasil mitosis yang berkumpul menjadi satu kesatuan.
b. Stadium Blastula
Dari morula menjadi blastula. Dalam tahap ini masih berlangsung proses pembelahan sel sehingga terbentuk suatu rongga pada bagian tengah yang disebut blastosol.
c. Stadium Gastrula
Dari blastula menjadi gastrula. Dalam tahap ini terjadi pembentukan lubang lekukan (blastopor) yang mempunyai dua lapisan. Selanjutnya, sel-sel bagian permukaan lapisan ektoderm mengalami pelekukan ke dalam (invaginasi). Sel-sel tersebut mengisi ruang antara ektoderm dan endoderm membentuk lapisan mesoderm.
d. Organogenesis (Pembentukan Organ)
Pada tahap ini terjadi diferensiasi (perkembangan sel-sel membentuk struktur dan fungsi khusus) dari: 1) Ektoderm menjadi kulit, sistem saraf, hidung (alat-alat indra), anus, kelenjar-kelenjar kulit, dan mulut. 2) Mesoderm menjadi tulang, otot, ginjal, jantung, pembuluh darah, dan alat kelamin. 3) Endoderm menjadi kelenjar-kelenjar yang mempunyai hubungan dengan alat pencernaan, paru-paru, dan alat-alat pencernaan. Setelah organogenesis selesai, selanjutnya penyempurnaan embrio menjadi fetus yang telah siap dilahirkan (larva ikan).










