Jumat, 01 Oktober 2010

Menyulap Limbah Kaca Jadi Kerajinan Bernilai

Hati Tergerak kala Lihat Tumpukan Kaca Bekas. Kreativitas jika dipupuk terus dan dijalani dengan tekun hasilnya akan segera kelihatan. Itu pula yang dilakukan Rendra Anang Pambudi. Berbekal kemauan keras, lelaki 31 tahun ini mampu memanfaatkan limbah kaca menjadi hiasan bernilai tinggi. Tumpukan limbah kaca tampak berserakan di depan rumah Rendra Anang Pambudi di Perum Graha Sapto Raya, Pakis. Tumpukan kaca itu tak beraturan. Sebagian dibiarkan tergeletak begitu saja.

Di ruang tamu rumah berukuran 6 x 7 meter itu tampak Rendra serius mengamati hasil karyanya. Ada miniatur menara Petronas (Malaysia), menara Eiffel (Prancis), dan beberapa miniatur lainnya. Miniatur itu tertata rapi di sudut-sudut ruang tamu. Ada yang sudah 100 persen jadi, ada pula yang baru tergarap 80 persen.

"Semua ini sudah ada yang pesan. Tinggal finishing dan kirim saja," ucap Rendra saat melihat koran ini mengamati karyanya Sabtu (5/4) kemarin.

Semua miniatur yang berjumlah lebih dari sepuluh buah dengan berbagai ukuran itu memang sudah dipesan pelanggan seni kaca ini sebulan lalu. Setelah mendapat pesanan, biasanya Rendra membutuhkan waktu satu minggu untuk menyelesaikannya.

Rendra sendiri menyebut karya miniatur bangunan dari kaca itu dengan sebutan kerajinan kaca datar. Disebut begitu karena karya Rendra ini berupa tumpukan-tumpukan kaca yang disusun rapi mendatar membentuk miniatur sebuah bangunan. "Menatanya memang mendatar, makanya saya menyebut karya ini sebagai kerajinan kaca datar," terang Rendra.

Di Malang Raya, perajin kaca datar seperti Rendra ini belum ada. Sedang di kota lain seperti Bali dan Jogja, perajinnya cukup banyak. Bahkan di Bali, perajin kaca datar banyak mendapat tempat di hati turis manca, sehingga pesanan pun tak hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Ide membuat miniatur bangunan dari limbah kaca ini mulai muncul di benak Rendra pada 2005. Saat itu, pria berkaca tebal ini melihat tayangan TV swasta tentang pemanfaatan limbah. Pengaruh tayangan tersebut membuat dia penasaran dan selalu berpikir mengenai limbah apa yang bisa dimanfaatkan.

Kegelisahan Rendra selama lebih dari sebulan itu akhirnya terjawab. Kala itu ia berada di toko bangunan. Saat di toko itu, Rendra melihat banyak tumpukan kaca bekas yang sudah tak terpakai. Dari situlah idenya muncul. Inspirasi memanfaatkan limbah bekas dari tayangan TV yang dilihatnya makin membuatnya semangat.

"Saat melihat tumpukan kaca bekas, saya masih belum punya ide digunakan untuk apa kaca itu. Sesampainya di rumah, ide bermunculan," kenang pria lajang ini.

Berbekal kemauan dan tekad keras, Rendra kembali ke toko bangunan untuk membeli limbah kaca itu. Agar idenya bisa segera terealisasi, Rendra juga membeli beberapa perlengkapan lainnya. Di antaranya lem kaca, alat pemotong kaca, dan tang pemotong kaca.

Untuk merealisasikan kemauannya, Rendra mengambil waktu luang setelah mengajar sebagai guru kursus privat bahasa Jepang. Waktu luang itu hanya tersedia pagi dan malam hari. Sebab, siang hingga sore, Rendra harus memberi les privat. Di waktu luang itu, Rendra menyiapkan dirinya berkonsentrasi penuh pada limbah kaca.

Selama satu bulan penuh, Rendra mengisi waktu luangnya dengan kerajinan tangan tersebut. Hasilnya, sebuah miniatur menara Eiffel berhasil dibuatnya. Karyanya itu kemudian ditunjukkan pada orang tua dan tetangganya. Hasilnya, mereka tak percaya kalau miniatur tersebut terbuat dari limbah kaca. "Mereka mengira kalau saya beli di perajin," kata Rendra.

Karena banyak yang ragu, Rendra pun kembali membuat miniatur yang sama. Untuk miniatur kedua, Rendra hanya membutuhkan waktu dua minggu saja. Hasilnya lebih baik dari produksinya yang pertama. Para tetangga pun minta agar Rendra menawarkan kerajinan tangannya di pasar Minggu Gajayana Kota Malang.

Dua miniatur buatannya seharga Rp 75 ribu itu pun laris manis. Bahkan sejak itu Rendra kebanjiran pesanan hingga sekarang. Para pemesan bukan saja dari warga Malang Raya, tapi juga luar kota seperti Surabaya, Blitar, dan Jakarta.

Seiring banyaknya pesanan, limbah kaca yang dibutuhkan juga semakin banyak. Setiap minggunya, Rendra sudah menghabiskan lebih dari 50 kg. Setiap kilo limbah kaca harganya Rp 300 rupiah. Bahkan kalau ada yang menginginkan ada ornamen warna, Rendra harus membeli kaca yang bukan limbah. "Sekarang saya juga sudah mempunyai tiga orang pekerja. Sebab banyak order yang masuk," aku Rendra.

Melihat potensi kerajinan kaca datar ke depan terlihat baik, sekarang Rendra mulai mengurangi intensitasnya sebagai guru les privat. Dia mulai membuka jaringan pemasaran. Terlebih berusaha mengembangkan kerajinan ini menjadi industri yang besar. "Itu cita-cita saya," ujar Rendra.

sumber berita :
http://www.matabumi.com/features/menyulap-limbah-kaca-jadi-kerajinan-bernilai

www.jendelahewan.blogspot.com