Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.
Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.
Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:
1) Tipe Ayam Petelur Ringan.
Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama.
2) Tipe Ayam Petelur Medium.
Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada diantara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna.Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga.
PERSYARATAN LOKASI
1) Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk.
2) Lokasi mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran.
3) Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah.
Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.
Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan.
Peralatan :
a. Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
b. Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung keluar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.
c. Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
d. Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus
Penyiapan Bibit
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:
a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.
c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:
a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya.
c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.
Sumber : http://informasimotivasi.blogspot.com/
www.jendelahewan.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Ayam Petelur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Ayam Petelur. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 September 2012
Minggu, 27 November 2011
Mengenal Kiat-kiat Beternak Ayam Petelur
Anda tentu tahu apa itu ayam petelur, bukan? Ya, ayam betina yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya disebut ayam petelur. Jika dilakukan secara intensif, beternak ayam petelur dapat mendatangkan keuntungan yang cukup lumayan.Sejarah Singkat Ayam Petelur
Ayam petelur merupakan ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk menghasilkan telur atau diambil telurnya. Asal-usul ayam petelur, yaitu berasal dari ayam hutan dan itik liar yang dipelihara dan dapat bertelur lumayan banyak.
Dari waktu ke waktu, ayam hutan dari berbagai wilayah di dunia diseleksi oleh para pakar. Penyeleksian ini diarahkan pada produksi yang cukup banyak karena ayam hutan tersebut bisa diambil telur dan dagingnya. Oleh karena itu, arah dari produksi yang banyak tersebut mulai lebih spesifik.
Ayam yang telah diseleksi untuk tujuan produksi daging disebut dengan ayam broiler, sedangkan ayam untuk produksi telur disebut dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga ditujukan pada warna kulit telur dan dikenallah ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.
Persilangan dan seleksi tersebut berlangsung cukup lama sampai menghasilkan ayam petelur seperti yang ada saat ini. pada saat terjadi persilangan, sifat jelek akan dibuang dan sifat baik akan dipertahankan (terus dimurnikan). Inilah yang disebut dengan ayam petelur unggul.
Sampai akhir 1980-an, masyarakat Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Sifat ayam saat itu hanya dianggap seperti ayam kampung. Jika telurnya enak dikonsumsi, dagingnya pun enak dikonsumsi. Tapi, ternyata pendapat tersebut tidaklah benar karena ayam ras ini bertelur banyak tetapi dagingnya tidak enak.
Jenis ayam yang pertama kali diternakkan pada masa itu yaitu ayam petelur white leghorn yang kurus dan biasanya sesudah habis masa produktifnya. Pada akhir 1990-an, mulai marak peternakan ayam broiler yang dikhususkan untuk daging. Di sisi lain, peternakan ayam petelur dwiguna atau ayam petelur cokelat mulai bermunculan. Inilah awal merebaknya peternakan ayam petelur.
Jenis-jenis Ayam Petelur
Berdasarkan jenisnya, Ayam petelur dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni ayam petelur ringan dan ayam petelur medium. Kedua jenis ayam ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Apa saja perbedaan yang dimiliki kedua jenis ayam petelur ini?
Berikut adalah ulasannya.
1. Ayam Petelur Ringan
Ayam petelur ringan disebut juga ayam petelur putih. Ciri-ciri ayam petelur ringan, antara lain sebagi berikut.
• Berbadan ramping.
• Mata bersinar.
• Bulu berwarna putih.
• Jengger berwarna merah.
Ayam petelur ringan merupakan keturunan galur murni white leghorn. Jenis ayam ini mampu menghasilkan lebih dari 260 butir telur per tahun.
Meskipun produksi telurnya cukup banyak, ayam petelur ringan memiliki kelemahan, yaitu peka terhadap cuaca panas dan keributan. Selain itu, ayam ini mudah kaget. Jika kaget, produksi telurnya akan menurun. Selain itu, ayam petelur ini benar-benar murni sebagai penghasil telur karena dagingnya sama sekali tidak diharapkan.
2. Ayam Petelur Medium
Berbeda dengan ayam petelur ringan yang memiliki bobot ringan dan berbadan ramping, ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tetapi tidak seberat ayam broiler yang memang diternakan untuk diambil dagingnya.
Produksi telur ayam petelur medium cukup tinggi. Karena badannya cukup besar, dagingnya juga cukup banyak. Oleh karena itu, ayam petelur medium disebut ayam tipe dwiguna. Artinya, ayam ini memiliki dua manfaat, yaitu menghasilkan telur sekaligus daging.
Umumnya, ayam petelur medium berbulu cokelat. Telur yang dihasilkannya juga berwarna cokelat. Biasanya, orang lebih menyukai telur berwarna cokelat daripada telur berwarna putih meskipun nilai gizinya relatif sama.
Telur yang berwarna cokelat lebih berat daripada telur putih. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika harga di pasaran untuk telur berwarna coklat lebih mahal dibanding yang berwarna putih.
Budidaya Ayam Petelur
Saat ini, budidaya ayam petelur termasuk salah satu kegiatan atau usaha yang sudah banyak berkembang. Namun, karena permintaan telur di pasaran yang selalu tinggi membuat usaha ini masih layak untuk dijajaki. Untuk itu, penulis akan memberikan beberapa cara untuk budidaya ayam petelur.
a. Penyiapan Bibit Ayam Petelur
Bibit yang berkualitas berasal dari induk yang memiliki sifat-sifat unggul. Adapun sifat-sifat unggul yang harus dimiliki calon induk ayam petelur adalah sebagai berikut.
• Produktivitas dan bobot telur yang dihasilkan cukup tinggi.
• Konversi ransum atau konversi makanannya rendah. Konversi ransum adalah perbandingan antara berat ransum yang dihabiskan dan berat telur yang dihasilkan.
• Pertumbuhan badannya bagus.
• Daya tahan terhadap penyakit tinggi.
• Masa bertelurnya cukup panjang.
Bibit ayam biasa disebut DOC (day old chicken) atau anak ayam umur sehari. Bibit yang berkualitas harus memenuhi persyaratan berikut.
• DOC merupakan keturunan induk yang sehat.
• Bulu-bulunya terlihat halus dan penuh.
• Tubuh tampak sehat dan tidak memiliki cacat.
• Mempunyai ukuran tubuh yang normal, dengan bobot antara 35 – 40 gram.
• Memiliki nafsu makan yang baik.
• Di duburnya tidak terdapat bekas tinja.
b. Pemberian Pakan Ayam Petelur
Ayam petelur memiliki dua fase, yaitu fase starter (umur 0 – 4 minggu) dan fase finisher (umur 4 – 6 minggu). Pemberian pakan dibedakan menurut fase umur tersebut.
Perbedaannya terletak pada persentase zat gizi dan kuantitas pakan.
1) Pakan Fase Starter
Pakan fase starter tediri atas: protein 22 – 24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%.
Kuantitas pakan ayam petelur dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.
• Minggu pertama (umur 1 – 7 hari): 17 gram/hari/ekor.
• Minggu kedua (8 – 14 hari): 43 gram/hari/ekor.
• Minggu ketiga (umur 15 – 21 hari): 66 gram/hari/ekor.
• Minggu keempat (umur 22 – 29 hari): 91 gram/hari/ekor.
2) Pakan Fase Finisher
Pakan fase finisher terdiri atas: protein 18,1 – 21,2%, lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium 1%, dan fosfor 0,7 – 0,9%.
Kuantitas pakan dibedakan menurut golongan umur, yakni sebagai berikut.
• Minggu kelima (umur 30 – 36 hari): 111 gram/ hari/ ekor.
• Minggu keenam (37 – 43 hari): 129 gram/ hari/ ekor.
• Minggu ketujuh (umur 44 – 50 hari): 146 gram/ hari/ ekor.
• Minggu kedelapan (umur 51 – 57 hari): 161 gram/ hari/ ekor.
Selain pakan, ayam petelur juga diberi minum. Air minum untuk hari pertama sebaiknya ditambah gula sebanyak 50 gram per 1 liter air dan obat antistres.
c. Pencegahan Penyakit pada Ayam Petelur
Serangan penyakit pada ayam petelur dapat dicegah dengan menjaga kebersihan kandang. Kandang harus selalu dibersihkan. Jika ada bagian yang rusak, harus segera diperbaiki.
Agar kebal dari penyakit yang disebabkan virus, ayam perlu diberi vaksinasi. Vaksinasi untuk ayam antara lain vaksin NCD, vaksin cacar, dan vaksin anti-RCD.Ayam yang akan divaksinasi harus dalam keadaan sehat. Dosis vaksin juga harus tepat. Selain itu, alat yang digunakan juga harus steril.
d. Pemanenan Ayam Petelur
Telur ayam petelur sebaiknya dipanen tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Dengan demikian, kerusakan isi telur akibat virus dapat dihindari atau dikurangi.Telur selanjutnya diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Telur abnormal harus dipisahkan dari telur normal.
Telur ayam petelur normal berbentuk oval, bersih, dan berkulit mulus. Beratnya sekitar 57,6 gram dengan volume 66 cc. Sementara telur abnormal adalah telur yang terlalu kecil, terlalu besar, bentuknya lonjong, atau kulitnya retak.
Sumber : http://www.anneahira.com/ayam-petelur.htm
www.jendelahewan.blogspot.com
Rabu, 23 November 2011
Cara Memelihara Ayam Petelur
Artikel ini lanjutan dari artikel sebelumnya mengenai cara memelihara ayam. Pemeliharaan ayam pada dasarnya dapat dikategorikan atau dibagi dalam 3 fase. Berikut akan dibahas secara garis besarnya saja mengenai 3 fase di bawah ini.Fase permulaan
Dalam fase permulaan berawal dari umur 0 hari sampai 6 minggu, dimana bentuk ukuran dan keseragaman sebagai tujuan bagi peternakan ayam. (untuk ayam petelur).
Fase kedua
Fase kedua berawal dari umur 6 minggu sampai 16 minggu ketika hewan ternakan (ayam) perlu dipelihara di bawah program pemakanan yang dikontrol dengan sangat teliti dan hati-hati untuk menghindari peternakan ayam dari berat badan yang berlebihan.
Fase ketiga
Fase ketiga berawal selepas 16 minggu dari umur ayam, dalam fase ini ayam dituntut untuk mempercepat pertumbuhan untuk persediaan bagi perkembangan seksual dan untuk mencapai keseragaman berat badan yang optimal.
Rincian dari fase permulaan dan keterangannya
Fase permulaan untuk ayam petelur adalah bermula dimana ayam dierami, atau mengeram, pengeraman minimal dari umur 1 sampai 14 hari.
Selain target berhasilnya proses 24 jam pertama ada juga target 14 hari pertama, yaitu ketika umur ayam menjelang 1 minggu atau 14 hari.
14 hari pertama atau umur ayam 1 minggu merupakan tempoh masa yang paling penting yang harus di fahami oleh seorang peternak.
Dalam ayam menjelang 14 hari dalam peternakan ayam petelur maupun ayam broiler, seorang peternak ayam perlu mengingat mengenai 4 dasar yang harus selalu diperhatikan adalah :
* Air
* Suhu
* Kualitas udara
Kepentingan dalam tempoh mengeram tidak boleh diabaikan. 14 hari pertama anak ayam menyediakan dasar bagi penghasilan yang baik, usaha-usaha yang dijalankan ketika bermulanya fase mengeram, jika berhasil akan memberikan kepuasan kepada peternak ketika penghasilan terakhir ternakan (panen).
Persiapan makanan dan air yang segar
Sangat perlu di sediakan keadaan air dan makanan yang segar sebelum anak-anak ayam datang di kandang.
Brooding dan alat pemanas
Perlu sering di periksa keadaan pemanas untuk memastikan alat2 pemanas tersebut berfungsi dengan baik.
Tempat minum
Tempat minum tambahan sangat di sarankan dari usia sehari sampai usia 7 hari
Gunakan tempat minum yang kecil (sesuai) dan jangan menggunakan tempat minum yang terlalu terbuka misalnya seperti baskom atau ember yang yang di potong atau bahan2 lainnya yang bersipat terbuka, ini boleh membantu menghindari masalah penyakit yang berjangkit di kaki (anak ayam) dan jangan menyimpan tempat minum di bawah pemanas.
Sumber : http://www.muksin.com/2011/02/cara-memelihara-ayam-petelur.html
www.jendelahewan.blogspot.com
Senin, 21 November 2011
Cara Memelihara Ayam
Pengurusan anak ayam.Dalam artikel ini, yang akan informasi peternakan ayam uraikan adalah, Panduan pengurusan ayam pembiak cobb 500. walaupun panduan yang akan di tulis mengenai pengurusan ayam cobb, akan tetapi cara/teknik pengurusan secara dasarnya atau garis besarnya semua jenis ayam pengurusan nya adalah sama.
Kalau pengurusan dari umur 0 hari sampai umur 2 minggu akan mengalami banyak kesamaan, dan boleh diterapkan peda pemeliharaan jenis ayam apa saja, Misalnya anda sangat faham dan mengerti teknik pemeliharaan anak ayam (DOC) ayam petelur, jadi skill anda tidak ada salahnya jika di terapkan pada ayam jenis broiler misalnya, di karenakan Tujuan pemeliharaan ayam dari umur 1 hari sampai satu minggu adalah bagai mana sebisa mungkin caranya agar bisa mengendalikah suhu ayam sebagai mana yang di butuhkan pada masa itu (masa eraman).
Selain kondisi pakan atau air yang juga harus di perhatikan, Suhu yang baik juga sangat begitu membantu terhadap pertumbuhan anak ayam tersebut.
Jadi yang saya maksud adalah walaupun panduan buat ayam cobb (PS) pada dasarnya, akan tetapi tidak ada salahnya panduan ini di aplikasikan kepada pemeliharaan ayam-ayam lainnya, seperti ayam kampung (jenis komersial) atau ayam kampung semi intensif atau intensif, ayam potong, ayam petelur dan ayam ayam yang lain.
PERSEDIAAN KEDATANGAN ANAK AYAM
Kunci terhadap keberhasilan seorang peternak terletak pada program pengurusan eraman yang baik, berawal dari persediaan sebelum anak ayam datang ke kandang.
Apabila anda meng-import anak ayam atau bibit ayam dari negara lain, sangat di anjurkan mempunyai pekerja yang terlatih yang berpengetahuan dalam peraturan-peraturan kastam, dan procedur dokumen2 yang di perlukan untuk memastikan pelepasan dari bea dan cukai secepat mungkin.
Kemudian pengangkutan anak ayam dari lapangan terbang di haruskan berada dalam keadaan bersih, disanitasi, kendaraan mempunyai pengudaraan yang bisa di atur suhunya, setiap usaha perlu di buat untuk menyelaraskan jadwal pengangkutan supaya anak ayam akan mendapatkan pelepasan dari airport dan sampai ke kandang dengan tepat waktu untuk menghindari dehidrasi, dan harus ditempatkan ke kandang secepat mungkin,
Ketika anda menerima anak ayam dengan kondisi yang panas (di ariport) maka alangkah baiknya jika anda membawa botol sprayer, dan buka semua box atau kardus ayam, dan spray ayam yang ada di dalam box atau kardus dengan menggunakan botol spray.
Tapi dengan catatan menggunakan air yang bersih, boleh juga menggunakan air minum mineral misalnya air Aqua, dan sejenis nya, penyemprotan ini bertujuan untun menurunkan suhu ayam yang ada di dalam box untuk menghindari dehidrasi yang berlebihan.
Memelihara ayam di dalam kandang , harus mempunyai umur yang sama, pastikan kandang yang akan di isi terpisah dari kandang ayam yang lebih tua, (jika anda memelihara ayam dengan cara multi age), tapi sebaiknya anda memelihara ayam dengan sistem atau program “all-Inn /all -out” dengan program keselamatan yang baik.
Pekerja hanya boleh bekerja khusus untuk ayam kecil saya (atau hanya memelihara di dalam brooding).
Peralatan peternakan mestilah dalam keadan bersih dan bebas kuman sebelum anak ayam datang ke kandang, baca prosedur pembersihan yang terperinci dan biosekurity yang baik, dan biosekuriti kandang tersebut harus terpelihara dengan baik setiap saat, biosekurity di terapkan 365 hari setahun termasuk dalam jangka masa ketika kandang kosong.
Lokasi kandang harus dan perlu berada dalam keadaan selamat, kendaraan yang memasuki kawasan kandang perlu menjalani prosedur pembersihan yang baik (dengan disinpektan).
Hanya orang2 tertentu saja yang bisa memasuki kawasan kandang dan mereka harus mengikuti prosedur-prosedur biosekurity yang baik terrmasuk mandi, dan memakain pakain dan sepatu keselamatan yang sudah di sediakan.
Pintu kandang harus selalu tertutup, untuk menghindari binatang pemangsa masuk ke dalam kandang, seperti kucing, anjing dan binatang lain nya yang akan mengganggu keselamatan ayam peliharaan tersebut. Artikel lanjutan nya berada di sini Cara memelihara ayam petelur
Sumber : http://www.muksin.com/2011/01/cara-memelihara-ayam.html
www.jendelahewan.blogspot.com
Kamis, 17 November 2011
Budidaya Ayam Petelur Skala Rumah Tangga
Meskipun budidaya ayam ras petelur sudah berkembang sejak akhir tahun 1960an, namun hingga kini penyebarannya masih belum mampu menjangkau kawasan terpencil. Hingga tidak mengherankan di beberapa kabupaten di Kalimantan, Maluku dan Papua, harga satu butir telur ayam ras mentah, bisa mencapai Rp 1.000,- sd. Rp 1.500,- per butir. Berarti per kg. antara Rp 16.000,- sd. Rp 24.000,- Di kota Nunukan, Kalimantan Timur, kebutuhan telur ayam ras malahan dipasok dari Tawao, Sabah, Malaysia. Sebab mendatangkan telur dari Tarakan, biaya transportasinya (2 jam speed boat) justru lebih tinggi dibanding dengan membelinya di Tawao (0,5 jam speed boat atau 1 jam long boat).Di kota Nunukan, budidaya ayam ras petelur skala rumahtangga, juga masih kalah efisien dibanding dengan membeli telur dari Tawao. Lain halnya di kep. Kei (Maluku Tenggara) beberapa kabupaten di Papua dan juga Kalimantan. Kecuali di Kalsel. Sebab di provinsi ini, pangsa pasar telur didominasi oleh itik alabio dari Amuntai. Peternakan ayam ras petelur di Kalsel memang berkembang cukup baik, namun skalanya sudah sangat besar. Karenanya dari segi efisiensi tetap bisa bersaing dengan telur itik alabio hasil peternakan rakyat yang efisiensinya juga sangat tinggi. Satu ekor itik alabio, dalam waktu satu tahun mampu bertelur sampai 250 butir (ayam ras rata-rata 270 butir).
Karenanya, sebelum memulai usaha agroindustri telur ayam ras, terlebih dahulu harus dihitung kebutuhan pasar. Yang dimaksud sebagi pasar dalam hal ini bisa berupa konsumen langsung, pedagang pengumpul, pedagang pengecer di pasar/warung. Yang disebut sebagai konsumen langsung pun terdiri dari dua macam. Pertama konsumen rumahtangga, kedua konsumen khusus berupa asrama, rumahsakit, perusahaan roti/kue, hotel dan restoran. Konsumen rumahtangga sebenarnya tidak pernah membeli telur secara langsung ke produsen, melainkan ke warung setempat. Kecuali di lingkungan kecil yang masih tertutup. Misalnya di kompleks transmigran.
Kebutuhan riil pasar yang telah dihitung ini, akan menentukan populasi ayam yang akan dipelihara. Misalnya, perkiraan kebutuhan pasar rata-rata 50 kg. telur per hari atau 18,25 ton per tahun. Bobot telur ini harus dikonversikan menjadi butir (16 butir per kg), hingga kebutuhan pasar per tahun mencapai 18.250 kg. x 16 = 292.000 butir. Dengan kemampuan bertelur rata-rata 270 butir per tahun, maka untuk memenuhi kebutuhan pasar 50 kg. per hari, harus dipelihara 292.000 : 270 = 1.081, 481 atau dibulatkan menjadi 1.200 ekor. Pembulatan ke atas ini untuk mengantisipasi mortalitas (tingkat kematian ayam).
Kalau harga jual telur di tingkat konsumen Rp 8.000,- per kg. maka harga per butirnya Rp 500,- Harga pokok telur berikut keuntungan peternak 70% dari harga di tingkat konsumen atau Rp Rp 350,- per butir. Dari nilai tersebut 70% atau Rp 245,- merupakan biaya pakan. Sisanya yang Rp 105,- merupakan penyusutan induk (Rp 50,-) kandang (Rp 15,-) biaya tenaga kerja Rp 20,- operasional Rp 15,- dan keuntungan peternak Rp 15,- Harga pokok Rp 350,- per butir, setelah dikurangi keuntungan Rp 15,- menjadi Rp 335,- merupakan biaya yang harus disediakan oleh peternak. Hingga untuk memproduksi 292.000 butir telur per tahun, diperlukan biaya 292.000 x Rp 335,- = Rp 97.820.000,-
Namun kebutuhan modal secara riil tidak akan sebesar itu. Sebab sejak awal bulan IV, ayam sudah mulai bertelur dan hasilnya bisa dijual. Hingga modal yang harus dikeluarkan hanyalah biaya investasi kandang, induk ayam, pakan ayam sebelum berproduksi, tenaga kerja dan biaya operasional dengan nilai Rp 90,- x 292.000,- = Rp 26.280.000,- atau dibulatkan menjadi Rp 30.000.000,- sd. Rp 35.000.000,- Pembulatan ke atas ini diperlukan untuk menjaga likuiditas usaha. Sebab ketika telur dibawa ke pasar atau konsumen, tidak akan segara menghasilkan uang cash. Bisa saja pembayaran berupa cek atau giro mundur. Kebiasaan pasar swalayan misalnya, pembayaran baru bisa dicairkan paling cepat dalam jangka waktu 21 hari sejak memasukkan barang.
Dengan modal antara Rp 30.000.000,- sd. Rp 35.000.000,- mulai bulan IV akan diperoleh omset harian Rp 350,- (harga di tingkat peternak) x 800 (butir telur = 50 kg) = Rp 280.000,- Dari omset tersebut, marjin yang diperoleh peternak adalah Rp 15 x 800 = Rp 12.000,- per hari atau Rp 360.000,- per bulan. Dengan populasi ayam yang hanya 1.200 ekor, maka pemeliharaannya bisa dilakukan oleh tenaga keluarga sendiri sebagai sambilan. Hingga dari upah tenaga kerja Rp 20,- per butir, keluarga tersebut masih bisa memperoleh pendapatan Rp 20,- x 800 = Rp 16.000,- per hari atau Rp 480.000,- per bulan. Total dengan keuntungan beternak, penghasilan keluarga tadi akan mencapai Rp 480.000,- + Rp 360.000,- = Rp 840.000,- per bulan.
Dengan perhitungan tersebut, maka minimal kebutuhan pasar yang bisa memberikan peluang usaha budidaya ayam petelur adalah 50 kg. per hari. Kurang dari angka itu akan menjadi tidak efisien. Lebih dari jumlah tersebut, diperlukan tambahan tenaga kerja untuk pengelolaan. Perhitungan ini menggunakan patokan harga telur Rp 8.000,- per kg. di tingkat konsumen. Apabila harga telur mencapai Rp 10.000,- sd. Rp 25.000,- per kg, maka prosentase keuntungan peternak akan tetap sama. Sebab perbedaan nilai nominal harga telur ini juga juga akan berdampak sama terhadap biaya produksi dan pengeluaran harian di kawasan tersebut yang juga cukup tinggi.
Tingkat pendapatan peternak sebenarnya masih bisa lebih ditingkatkan lagi, apabila komponen biaya pakan bisa ditekan lebih rendah. Nilai pakan Rp 245,- dari tiap butir telur, sebenarnya merupakan nilai pakan ayam termasuk pada saat tidak bertelur. Hingga sebenarnya nilai riil pakan per hari adalah 270 : 365 X Rp 245,- = Rp 181,23. Nilai komponen biaya pakan itu masih mungkin ditekan sampai ke tingkat Rp 160,- per hari (0,1 kg. atau Rp 1.600,- per kg). Caranya dengan membeli tepung ikan, tepung tulang, tepung grit, jagung giling, tepung casava dan bungkil kemudian mencampurnya. Dengan cara itu, peternak mampu memperoleh tambahan marjin Rp 21, 23 x 365 : 270 = Rp 28,69 untuk tiap butir telur yang diproduksinya, atau per hari Rp 28,69 x 800 = Rp 22.952,- atau Rp 688.560,- per bulan.
Rata-rata keluarga Indonesia dengan 5 jiwa (2 orangtua 3 anak), akan mengkonsumsi telur 1 kg. selama 5 hari, atau per hari hanya 0,2 kg. Hingga kawasan dengan kebutuhan telur 50 kg. per hari, haruslah berpopulasi minimal 250 kk. Kota-kota kabupaten di kawasan terpencil di luar Jawa, bisa berpopulasi di atas 1.000 kk. Hingga di kota kabupaten dengan populasi 1.000 kk. tersebut berpeluang untuk membuka usaha peternakan ayam petelur bagi 4 keluarga @ 1.200 ekor atau 2 keluarga dengan populasi ayam 2.400 ekor. Semakin besar populasi suatu kota kabupaten, maka semakin besar pula peluang untuk membudidayakan ayam petelur.
Selain menghasilkan telur, usaha budidaya ayam petelur juga masih menghasilkan ayam afkir. Rata-rata ayam petelur harus diafkir pada minggu ke 55 sd. 65 sejak mulai berproduksi. Hingga masa produksi ayam ras petelur hanya sekitar 1 tahun 20 hari sd. 1 tahun 3 bulan. Ayam petelur afkir bisa dijual ke pedagang ayam pedaging atau ke pedagang sate ayam. Kebanyakan ayam petelur afkir banyak diserap oleh tukang sate ayam. Harga ayam afkir ini bervariasi antara Rp 10.000,- sd. Rp 15.000,- per ekor hidup. Tinggi rendahnya harga ayam afkir ini sangat ditentukan oleh pasokan ayam pedaging. Kalau pasokan ayam pedaging sedang kurang, padahal kebutuhan tetap, maka harga daging ayam termasuk ayam petelur afkir akan tinggi. Sebaliknya kalau pasokan ayam pedaging sedang melimpah sementara kebutuhan tetap, maka harga ayam petelur afkir juga akan ikut jatuh.
Ayam ras petelur, terdiri dari jenis berbulu putih dan cokelat. Ayam petelur jenis berbulu putih antara lain Hubab leghorn, Hisex white dan Ross white. Jenis berbulu cokelat antara lain Hubbarb golden comet, Hisex brown dan Ross brown. Di Indonesia, jenis berbulu cokelat lebih populer dibanding dengan jenis berbulu putih. Benih ayam ras petelur dibeli dalam bentuk DOC (Day Old Chick = anak ayam umur sehari). DOC ini harus dipelihara dalam kandang koloni berlantai litter (sekam padi) dan harus diberi pemanas. Ada banyak alat pemanas kandang ayam, antara lain berupa lampu listrik, lampu minyak, kompor minyak dan kompor berbahan bakar briket batubara.
Setelah anak ayam tumbuh menjadi ayam dara (umur 2,5 sd. 3 bulan), mereka harus dipindahkan dari kandang koloni ke kandang baterai (kandang individual = kandang cage). Kalau selama dalam kandang koloni ayam diberi pakan grower (untuk pertumbuhan), maka setelah berada di kandang baterai pakannya berupa pakan ayam petelur (layer). Umumnya kandang baterai untuk ayam petelur terbuat dari bambu dan logam. Kandang bambu lebih cocok untuk usaha peternakan ayam petelur skala rumahtangga, sementara kandang dari logam cocok untuk usaha peternakan skala besar. Kandang bambu investasinya sangat rendah, namun penyusutannya juga cepat. Sementara kandang logam biaya investasinya tinggi namun penyusutannya juga lama. Hingga sebenarnya, kandang logam jatuhnya lebih murah dibanding kandang dari bambu.
Untuk memulai beternak ayam petelur di lokasi yang terpencil, harus diawali dengan magang (bekerja sambil belajar) pada peternak yang telah berpengalaman. Sebenarnya pemagangan ini bisa dilakukan oleh pemerintah daerah, pengusaha pertambangan, HPH dll, termasuk LSM dan lembaga keagamaan. Caranya, dengan mengirim kader-kader yang diharapkan akan mampu mengembangkan ternak ayam di kawasan tersebut, ke lokasi yang sudah ada peternakan ayamnya. Setelah selesai magang, mereka perlu dicarikan modal untuk memulai usahanya. Dengan cara demikian, usaha peternakan ayam petelur untuk rumahtangga akan mampu berkembang di kawasan yang terpencil.
Sumber : http://foragri.blogsome.com/budidaya-ayam-petelur-skala-rumahtangga/
www.jendelahewan.blogspot.com
