Kamis, 01 Desember 2011

Mengembangkan Potensi Rumput Laut Indonesia

Indonesia adalah negara maritim. Garis pantai kedua terpanjang di dunia dan 80 persen wilayah laut adalah bukti yang lebih dari cukup untuk klaim tersebut. Cahaya matahari sepanjang tahun membuat laut Indonesia tetap hangat dan menyangga banyak keanekaragaman hayati di dalamnya. Banyak orang Indonesia yang tahu kelapa, kayu, pohon, buah, dan dan manfaat-manfaat lain yang dikadungnya (karena dikenalkan dalam kegiatan pramuka). Namun tak banyak orang Indonesia yang mengetahui manfaat rumput laut, alga di laut yang sangat banyak jumlahnya namun kerap dianggap tak bernilai.

Manfaat pertama rumput laut adalah sebagai makanan dan obat. Orang Cina telah menggunakan rumput laut untuk makanan dan obat semenjak tahun 2000 Sebelum Masehi. (Xia & Abbott, 1987). Adalah orang Cina yang menggunakannya sebagai penyedap rasa dalam produk yang disebut “viet tsin”, yang oleh orang Jepang sekitar 40 tahun kemudian disentesiskan menjadi monosodium glutamate (MSG). Di Asia Timur, Zicai (紫菜) (di China), kim (di Korea) dan nori (in Japan) adalah lembaran-lembaran dari rumput laut jenis Porphyra yang dikeringkan lalu digunakan di dalam sup atau untuk membungkus makanan seperti sushi atau nasi.

Bangsa barat tidak biasa menggunakan rumput laut dalam bentuk utuh sebagai makanan (sebagaimana orang Asia), namun menggunakan ekstrak rumput laut seperti agar, atau menggunakannya di dalam menyiapkan makanan. Orang Indonesiapun memiliki cara khasnya tersendiri dalam memanfaatkan rumput laut, seperti adanya minuman rumput laut, permen rumput laut, dan lain sebagainya.

Tidak hanya sebagai makanan itu sendiri, tapi rumput laut juga penting di dalam industri makanan ataupun industri lainnya. Emulsifier, bahan untuk melarutkan cairan yang tidak bisa dicampur, adalah penting untuk menjaga coklat dan susu tetap tercampur di dalam susu coklat. Dan itu terbuat dari algae/rumput laut. Alginates juga kerap digunakan di dalam produk-produk industri seperti pelapisan kertas, lem, pewarna, jelly, peledak, dan di dalam proses-proses seperti pengukuran kertas, pencetakan tekstil, dan juga pengeboran. Rumput laut juga dapat digunakan sebagai pupuk.

Manfaat yang baru disadari dari rumput laut adalah sebagai biofuel (bahan bakar yang berasal dari tumbuhan). Rumput laut kini dipertimbangkan sebagai sumber potensial dari bioethanol. Segala sesuatu yang memiliki struktur gula (bukan hanya gula tebu sucrose, namun berbagai macam gula, seperti karbohidrat) dapat diekstrak menjadi ethanol. Lalu kenapa rumput laut? Alasannya cukup sederhana, adalah karena rumput laut itu banyak! ..dan juga tidak populer sebagai makanan (dibandingkan dengan jagung, tebu, dan pertanian utama lainnya).

Cara lain untuk mendapatkan biofuel dari rumput laut adalah dengan mengekstraksi gas metana dari rumput laut. Jauh di tahun 1974, orang Amerika meneliti sumber terbaharui dari metana (gas alam). Data mereka menunjukkan bahwa kandungan yang tinggi dari metana dapat dihasilkan dari rumput laut. Itu bukan ide yang baru, namun kini saatnya untuk mencoba lagi cara lama.

Kita telah melihat banyak peluang yang dihasilkan dari rumput laut. Namun lagi-lagi, kendalanya adalah Indonesia butuh teknologi. Bahan mentah sangat murah untuk dijual jika tanpa diproses. Pemrosesan sendiri berarti menciptakan nilai tambah, dan pastinya akan menyerap tenaga kerja. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah soal permodalan. Tanpa kedua hal tersebut (tentu saja selalu ada pasar yang mau membeli biofuel) yang kita dapatkan hanyalah satu benda lagi yang mengapung di laut.

Menurut pendapat saya, Korea memiliki gerakan yang bagus untuk dijadikan rekanan di dalam permodalan dan teknologi rumput laut. Pembicaraan dan kesepakatan antar kedua belah pihak pada tingkat daerah dan pusat (nasional) antara Indonesia -Korea telah dilakukan. Berikut ini adalah laporan penting pada level nasional yang melibatkan pejabat dari kedua negara. Di tingkat provinsi, sudah terjadi kerjasasama antara pemprov Sulawesi Tenggara dan investor dari provinsi Jeolla-do, Korea Selatan. Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Dr. Fadel Muhammad, mengharapkan pada tahun 2009 Indonesia dapat menjadi produsen terbesar dari produk-produk unggulan seperti rumput laut, ikan nila, dan juga lele.

Referensi:
1. Abbot, Isabella A. Ethnobotany of seaweeds : clues to uses of seaweeds. Department of Botany, University of Hawaii.
2. Stanley, Michele. Fuel from Seaweed. Biomara.
3. Kementrian Kelauatan dan Perikanan Republik Indonesia.

www.jendelahewan.blogspot.com